Masjid al-Anwar Lampung


Masjid al-Anwar Lampung

MUHAMMAD Saleh bin Karaeng adalah seorang ulama dan pejuang dari Kesultanan Bone, Sulawesi Selatan. Saat itu abad ke-19, Bone sudah dikuasai oleh penjajah Belanda. Sebagai seorang ulama dan kesatria, ia kemudian bangkit bersama para pengikutnya untuk melawan penjajah Belanda.

masjid-lampung

Masjid Lampung

Dilihat dari sudut manapun, Belanda dengan senjata yang lengkap dan modern bukanlah lawan sepadan bagi Muhammad Saleh. Oleh sebab itu, Muhammad Saleh kalah dan menjadi buronan Belanda. Untuk menghindari kejaran Belanda, ia kemudian menyelamatkan diri dengan mengembara ke berbagai negeri di Nusantara. Hingga suatu ketika, sampailah ia di pesisir selatan pulau Sumatera, yang sekarang dikenal dengan Lampung.

Diperkirakan, rombongan Muhammad Saleh merupakan rombongan orang Bugis pertama yang bermigrasi ke Lampung. Sebagai sukubangsa yang dikenal sangat erat hubungannya dengan Islam, orang-orang Bugis tersebut kemudian mendirikan sebuah surau sebagai tempat ibadah, diperkirakan sekitar tahun 1839 M. Selain Muhammad Saleh, tokoh-tokoh lainnya yang terlibat dalam pembangunan surau tersebut di antaranya adalah Daeng Sawijaya, Tumenggung Muhammad Ali dan Penghulu Besar Muhammad Said. Dalam perkembangannya, surau ini kemudian menjadi pusat ibadah dan pembinaan keagamaan para nelayan, pedagang dan masyarakat setempat.

Menjadi Basis Tempat Berkumpulnya Tokoh Pejuang Kemerdekaan

Pada tahun 1883, gunung Krakatau meletus dengan sangat dahsyat. Sebagai daerah yang lokasinya sangat dekat dengan Krakatau, Lampung mengalami kerusakan yang sangat parah. Surau yang sederhana ini hancur berkeping-keping. Berselang lima tahun kemudian (1888), Daeng Sawijaya bermusyawarah dengan para saudagar dari Palembang, Banten dan Bugis untuk membangun kembali surau yang telah hancur tersebut. Hasilnya adalah masjid yang lebih permanen dan diberi nama Masjid al-Anwar, artinya, masjid yang bercahaya.

Pada masa perjuangan kemerdekaan melawan penjajah Belanda, Masjid al-Anwar merupakan basis tempat berkumpulnya para tokoh pejuang untuk mengatur strategi. Di masjid ini berkumpul tokoh-tokoh seperti Alamsjah Ratuperwiranegara, Kapten Subroto, KH. Nawawi dan KH. Toha. Posisi masjid sebagai pusat perjuangan terus berlangsung hingga Indonesia merdeka dan Belanda angkat kaki dari seluruh Nusantara.

Sebagai masjid yang tertua di Lampung, Masjid al-Anwar juga memiliki banyak peninggalan kuno, di antaranya dua buah meriam peninggalan Portugis,  kitab tafsir al-Quran yang sudah berumur lebih dari satu setengah abad, 200 buku agama Islam dan gentong air keramat. Gentong ini dianggap keramat karena dulu digunakan oleh para ulama saat berbuka puasa. Peninggalan keramat lainnya adalah sumur tua di belakang masjid yang disebut Sumur Seribu Doa. Konon, sumur ini belum pernah kering sejak pertama kali digali, dan diyakini, airnya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Masjid al-Anwar terletak di Jalan Malahayati, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung. Saat ini, Jalan Malahayati merupakan kawasan perdagangan di Bandar Lampung.

Bangunan utama masjid yang digunakan untuk shalat ditopang oleh enam tiang setinggi delapan meter. Tiang yang berjumlah enam buah merupakan simbol dari rukun iman yang berjumlah enam. Menurut kisah, tiang tersebut dibangun tanpa menggunakan semen. Sebagai bahan perekat pasir, yang digunakan adalah putih telur dan kapur. Data lainnya yang lebih lengkap mengenai arsitektur masjid masih dalam tahap pengumpulan.

Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti siapa yang merancang masjid ini. Tidak menutup kemungkinan juga, jika masjid ini dirancang secara bersama-sama oleh mereka yang terlibat dalam pembangunan pertama.
Masjid ini telah beberapa kali direnovasi. Setelah Indonesia merdeka saja, tercatat dua kali renovasi: tahun 1962 dan 1997. Pada awal berdirinya, masjid ini hanya mampu menampung maksimal 400 jamaah. Pasca renovasi yang dilakukan pada tahun 1962, masjid ini mampu menampung lebih dari 2.000 jamaah. Saat itu, renovasi dilakukan disertai penambahan serambi selatan, utara dan timur.

Pos ini dipublikasikan di MASJID dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s