Definisi Pintu Maksiat


Berbuat Maksiat Akan Mengantar Masuk Neraka

Ada isitlah dosa, maksiat dan lain-lain, apasih maksiat itu, dari sebagian orang berpendapat maksiat tak jauh berbeda dengan “dosa”, yakni melanggar hukum agama. Tetapi maksiat memiliki pengertian yang lebih khusus, yakni pelanggaran hukum agama yang bersifat individual; hukum yang sedikit sekali dampak sosialnya.

arti-maksiat-dalam-islam

Arti Maksiat Dalam Islam

Jika seseorang dengki atau ghibah, yakni membicarakan kejelekan orang lain, maka dia melakukan maksiat. Jika seseorang pacaran dan melakukan ini dan itu, maka ia berdosa dalam pengertian yang sama. Begitulah seterusnya. Tetapi keseluruhan tindakan itu tidak masuk dalam ketegori kejahatan.

Kalau menurut wikipedia maksiat  adalah melakukan perkara-perkara yang dilarang, tercela dalam syariat Islam, dan pelakunya akan mendapat dosa.

 Ada empat tempat masuknya maksiat

 Tempat masuknya kemaksiatan adalah :

1. Pandangan

2. Ucapan

3. Pikiran

4. Langkah Kaki

 Pandangan adalah salah satu dari tempat masuknya kemaksiatan, Dalam Musnad, diriwayatkan dari beliau Saw., “Pandangan adalah salah satu di antara panah beracun milik iblis. Barang siapa yang menundukkan pandangannya dari kecantikan wanita ataupun lelaki yang mempesona, niscaya Allah tanamkan dalam hatinya kenikmatan beribadah hingga hari kiamat nanti.”

Pandangan adalah pangkal musibah yang menimpa manusia. Ia melahirkan selintas bayangan, lalu menjadi pikiran, dan Kemudian menimbulkan syahwat. Syahwat melahirkan keinginan yang terus semakin kuat hingga menjadi tekad yang membara. Setelah itu, tentu akan menjadi sebuah tindakan selagi tidak ada penghalang. Oleh karena itu, ada yang mengatakan, “Sabar dalam menundukkan pandangan itu lebih mudah daripada sabar dalam menghadapi kepedihan setelahnya.”

 Pintu Masuknya Maksiat Adalah Pikiran

Lintasan pikiran akan selalu mengganggu hati manusia hingga menjadi angan-angan kosong. Manusia yang paling rendah cita-cita dan kehormatannya adalah yang paling terkuasai oleh angan-angan yang menipu. Ia lalu berusaha meraih dan menikmatinya. Sungguh, angan- angan adalah modal orang-orang yang bangkrut dan dagangan para pengangguran. Angan-angan juga merupakan dorongan jiwa hampa yang merasa puas dengan khayalan dan mimpi palsu, seperti dalam syair :

 Angan-angan adalah rasa segar dalam kehausan

Dengannya kulenyapkan derita hausku hingga menjadi segar

Jika ia menjadi nyata, merupakan sebaik-baik cita-cita

Jika tidak, sungguh, hidupku hanya sia-sia belaka

 Ada empat macam lintasan pikiran yang menguntungkan bagi hamba:

 Lintasan pikiran yang mendatangkan manfaat di dunia.

 Lintasan pikiran yang menolak bahaya di dunia.

 Lintasan pikiran yang mendatangkan kebaikan di akhirat.

 Lintasan pikiran yang menolak bahaya di akhirat.

 Hendaklah seorang hamba membatasi lintasan pikiran, bayangan, dan cita-citanya pada empat bagian tersebut. Apabila lelah dibatasi sedemikian rupa, ia tentu dapat menghimpun semuanya secara bulat. Jika lintasan pikirannya begitu banyak, hendaklah ia mendahulukan yang lebih penting. Pertama, perkara terpenting yang ia khawatir kehilangannya. Kedua, perkara kurang penting yang ia tidak khawatir kehilangannya. Dan, masih ada dua yang tersisa, yakni perkara penting yang tidak akan lepas dan perkara yang tidak penting tapi bisa terlepas.

Apa pun selain empat macam lintasan pikiran di atas adalah bisikan setan, angan-angan kosong, serta tipuan bohong seperu pikiran orang yang mabuk, resah, dan was-was. Ketika hakikat telah terbuka.

 Hawa nafsu datang padaku sebelum aku mengenalnya

Apabila hati telah kosong dari ilmu dan petunjuk, setan lalu datang dan menemukan ruang kosong di dalamnya, kemudian ia mengisinya dengan sesuatu yang sesuai dengan kondisi pemiliknya. Jika hati itu tidak bisa ia isi dengan sesuatu yang hina, ia mengisinya dengan keinginan ibadah melulu dan sama sekali tidak ada keinginan yang menjadikannya semakin baik. Padahal, tidak ada kebaikan dan kebahagiaan kecuali dengan adanya keinginan untuk menjalankan yang diinginkan Allah dengan mengerjakan perintah dan segala yang dicintai serta diridhai-Nya, hatinya sibuk dan perhatiannya tercurahkan untuk semakin lebih mengenal-Nya, menjalankan perintah-Nya dan mengamalkannya di tengah makhluk-Nya, menyediakan jalan untuk tujuan itu, dan bergaul dengan makhluk sebagai sarana pengamalan keinginannya itu. Namun, setan menyesatkan mereka dari semua itu dengan mengajak mereka untuk meninggalkan dan mengabaikannya melalui sikap zuhud terhadap lintasan pikiran tentang dunia dan sebab-sebabnya.

 Ucapan Tempat Masuknya  Maksiat

Lisan di mnafaatkan oleh iblis untuk menggoda manusia, karena labih mudah maka sangat mudah masuknya maksiat. Apabila ingin berbicara hendaklah memikirkan terlebih dahulu faedah yang akan diperoleh atau tidak. Jika dirasa tidak ada manfaatnya, lebih baik diam. Apabila ada manfaatnya, hendaknya dilihat dulu apakah hal itu akan menyebabkan kehilangan manfaat yang lebih besar atau tidak. Jika demikian, tentu akan menjadi sia-sia belaka. Apabila ingin mengetahui isi dalam hati, perhatikanlah apa yang terucap dan yang dibicarakan sebab pembicaraan mengungkap isi dalam hati.

 Yahya bin Mu’adz berkata: “Hati ibarat periuk yang mendidih, sementara lisan adalah gayungnya.” Perhatikanlah orang yang sedang bicara, sesungguhnya, yang ia bicarakan menunjukkan apa yang ada dalam hatinya, manis, kecut, segar, asin, dan lain sebagainya. Cidukan lisannya akan menjelaskan isi hatinya. Sebagaimana kamu mencicipi apa yang ada di dalam periuk dengan lisanmu, begitu juga kamu bisa mengetahui isi hatinya lewat ucapan lisannya.

Anehnya, manusia sering kali merasa mudah untuk menjaga diri dari makan makanan haram, aniaya, zina, pencurian, mabuk, memandang sesuatu yang diharamkan, dan lain sebagainya, sementara mereka merasa berat untuk menjaga lisan sehingga adu orang yang dikenal beriman, zuhud, dan ahli ibadah, namun ia mengucapkan kata-kata yang dimurkai oleh Allah. Ia tidak merasa bahwa satu kata yang keluar dari mulutnya dapat menurunkan derajatnya sejauh jarak timur dan barat. Betapa banyak orang yang kelihatan berhati-hati dalam menjaga perbuatannya dari perilaku yang keji dan aniaya, namun lisannya senantiasa merusak kehormatan orang yang masih hidup dan yang sudah mati. Ia juga tidak mau peduli terhadap apa yang sedang ia ucapkan.

Gerakan yang paling ringan adalah gerakan lisan, namun ia adalah gerakan yang paling membahayakan bagi hamba. Para ulama salaf dan khalaf berbeda pendapat, apakah semua perkataan yang terucap itu yang dicatat atau hanya perkataan yang baik dan buruk saja. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang pertama, yaitu semua perkataan itu dicatat.

 Ada ulama salaf yang mengatakan, “Seluruh perkataan manusia itu berbahaya dan tidak ada yang bermanfaat bagi dirinya kecuali dzikir kepada Allah dan apa-apa yang mengiringinya.”

Abu Bakar Ra. pernah menunjukkan lisannya seraya berkata, “Ini adalah sumber bencana bagiku.”

Perkataanmu adalah tawananmu, namun apabila ia keluar dari lisanmu, kamu pasti akan menjadi tawanannya. Allah mengetahui ucapan lisan setiap orang.

Orang yang membungkam mulutnya dari kebenaran adalah setan bisu yang menentang Allah dan juga penjilat ketika ia tidak mengkhawatirkan bahaya atas dirinya. Adapun orang yang mengucapkan kalimat yang batil adalah setan yang berbicara dan menentang-Nya.

 Lakngkah Kaki Menuju Pintu Maksiat

Jika dalam langkah kaki seorang hamba tidak didapatkan tambahan atas pahala, tentu saja duduk itu jauh lebih baik baginya. Setiap hal yang dibolehkan dapat dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya sehingga setiap langkah kaki menjadi ibadah. Yang sebelumnya berupa kebiasaan dan perkara yang dibolehkan bisa berubah menjadi ibadah.

Pos ini dipublikasikan di TEORI DAKWAH dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s