Tayangan Merusak Anak – Anak Islam


Tayangan TV untuk Anak Muslim

Tanyangan tv untuk anak-anak muslim kurang mendidik, contoh dalam salah satu alur cerita, diceritakan sang tokoh sentral, yang notabene masih kanak-kanak, diculik oleh dewa kejahatan (maaf, saya tidak ingat namanya), yang mempunyai postur raksasa, kira- kira sebesar rumah, tapi karena kesaktian anak tersebut, sang raksasa berhasil dikalahkan, dan kembalilah sang anak ke pangkuan ayah bundanya.

bahaya-tv-bagi-anak

Bahaya TV Bagi Anak

Adegan mengalahkan kejahatan ini beberapa kali terjadi berkat bantuan dewa (konon seperti itu).

Di pertengahan filim ini, untuk lebih menarik, kadang diselingi oleh nyanyian lengkap dengan dansa-dansinya, dimana karakter-karakter binatang ikut bergoyang, tapi mirisnya, isi lagunya adalah berupa puji-pujian dari ajaran agama tersebut.

Saya tertarik untuk mengangkat masalah ini, karena saya berpikir, dari sekian puluh juta keluarga yang hidup di Indonesia, berapa persen sih yang sudah berhasil mengalihkan anak- anaknya dari tayangan- tayangan ke arah yang lain, atau berhasil disensor oleh orang tuanya? (termasuk saya pribadi masih agak susah untuk dapat seratus persen mengontrol tayangan TV bagi anak- anak).

Artinya, film- film seperti yang saya ceritakan di atas, tidak perduli muatannya tentang ajaran agama lain yang dapat merusak akidah anak, atau apa, keluarga di seluruh Indonesia dapat menikmati tayangannya dengan suka cita, tanpa memperhitungkan akibat kedepannya bagi anak. Ditambah rating iklan yang berjubel, yang dapat menaikan omset bagi TV yang menayangkannya, akan terus menyebabkan tayangan film bersangkutan tetap dipertahankan.

Jelas kita tidak mungkin meminta menyetop tayangan film seperti itu (atau bisakah?), karena yang hidup di Indonesia bukan hanya agama Islam, entahlah. Tapi, yang pasti, saya memikirkan sebuah solusi.

Teringat dulu, saya pernah aktif dalam sebuah sanggar boneka, saya beserta tim (3 orang), keliling dari sekolah ke sekolah, memenuhi undangan kenaikan kelas, untuk menghibur anak- anak. Tidak ada biaya yang dipatok, asalkan cukup untuk naik taksi mengangkut perlengkapan, itu sudah cukup bayaran untuk kami. Semua senang, anak- anak pun sangat antusias.

Tapi, karena managemen yang ala kadarnya, dan personil yang semakin disibukan oleh semakin bertambahnya anak, maka sanggar boneka ini mulai vakum, dan berhenti total.

Saat ini, kegiatan mendongeng di kalangan aktivis pendidikan mulai digiatkan kembali, melalui kegiatan-kegiatan yang lebih professional. Nah, saya berpikir, jika saja ada pihak-pihak yang kelebihan rezeki, dan kebingungan untuk menyalurkan dana infaq dan shodaqohnya kemana (adakah?), bukankah bisa dialokasikan untuk bidang kesenian?

Eits, jangan berfikir kesenian yang macam- macam, maksudnya, dakwah melalui hiburan, seperti membuat film- film untuk konsumsi anak, yang menarik. Seperti yang pernah digagas oleh Ust.Yusuf Mansur dengan “Wisata Hati” nya yang untuk kalangan dewasa, maka perlu juga digarap hiburan untuk konsumsi anak. Apakah mengangkat kisah kepahlawanan, dengan menampilkan sosok Sayyidina Ali Bin Abi Tholib, misalnya. Ataukah mengangkat kisah perjuangan hidup, yang dapat diwakili oleh sosok sahabat lainnya ….

 Mungkin pihak- pihak yang mengetahui betapa mahalnya untuk memproduksi sebuah film, apalagi film yang bermutu dan menarik, pesimis dengan tulisan saya, tapi percayalah, jika kita ada keinginan kearah sana, dan kita berusaha dan berikhtiar menyatukan langkah, mulai dari mencari sumber daya berupa tim kreasi, sampai produser filmnya, pastilah Allah Swt. akan membukakan pintu, dan terwujudlah apa yang diharapkan. Bukankah dahulu, salah satu wali songo (Sunan Kalijaga) berdakwah melalui sarana kesenian berupa wayang?

 Mungkin, semua dari kita paham betul, jika sekarang, adalah zamannya ghozul fikr, perang pemikiran, jadi tidak semua lapisan masyarakat dapat dicekoki dengan dakwah ala kebanyakan, apalagi anak- anak kita yang hidup dikelilingi oleh semua yang berbau pengerdilan akidah.

 Memang, pastilah membutuhkan profesionalisme dalam hal ini, jika kita ingin muatan syiar Islam diterima kalangan luas dengan kemasan menarik. Kalau tidak kita coba, mana kita tahu ikhtiar kita akan berhasil atau tidak?

 Jadi, adakah pihak- pihak yang tergerak untuk mendukung tayangan bebas syirik, dan memuat unsur pendidikan agama?

 Bahaya TV pada anak-anak Muslim

Semakin banyak seorang anak kecil menonton televisi, semakin besar kemungkinan prestasinya buruk di sekolah dan kesehatannya terganggu pada usia 10 tahun, kata para peneliti.

Penelitian yang melibatkan 1.300 anak oleh universitas Michigan dan Montreal menemukan dampak buruk pada anak-anak yang lebih sering nonton TV.

Prestasi mereka di sekolah juga lebih buruk, sementara konsumsi makanan cepat saji juga meningkat.

Para pakar Inggris mengatakan orang tua dapat mengijinkan anak-anak menonton TV yang memiliki kualitas tinggi.

Penelitian itu berdasarkan pertanyaan kepada orang tua terkait waktu anak-anak mereka menonton TV pada usia 29 bulan dan 53 bulan.

Pada umumnya, anak usia dua tahun nonton TV kurang dari sembilan jam per minggu, sementara anak usia empat tahun di bawah 15 jam.

Saat anak-anak itu diteliti kembali pada usia 10 tahun, guru-guru mereka diminta untuk menilai prestasi akademis, kelakuan dan kesehatan serta indeks berat tubuh atau body mass index (BMI).

Anak-anak yang nonton TV lebih banyak pada usia dua tahun lebih rendah fokusnya di kelas dan buruk dalam matematika.

Para peneliti juga menemukan penurunan aktifitas fisik namun meningkatnya konsumsi minuman ringan dan indeks berat tubuh.

‘Dampak yang mencemaskan’

Dr Linda Pagani dari Universitas Montreal yang memimpin penelitian mengatakan “Usia dini adalah masa kritis untuk perkembangan otak dan pembentukan perilaku.”

“Nonton TV pada waktu yang lama dalam usia ini dapat menyebabkan kebiasaan tidak sehat di masa depan.

“Waktu mereka akan habis di depan televisi dan tidak ada waktu untuk terlibat dalam aktifitas lain yang mendorong perekembangan kognitif.”

Dan ia menambahkan :”Walaupun dampak nonton TV pada usia dini akan hilang setelah tujuh setengah tahun, dampak negatifnya masih cukup mencemaskan.”

 “Temuan kami merupakan argumen kuat atas dampak nonton TV pada anak-anak.”

 Penelitian ini diterbitkan di jurnal Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine.

 Lembaga Inggris National Literacy Trust mengupayakan sejumlah langkah untuk meningkatkan pengawasan anak terkait TV.

 Badan itu menyebutkan orang tua harus “membatasi anak nonton TV dan mendorong aktifitas lain yang dapat meningkatkan kemampuan bahasa, seperti membaca bersama, berbincang dan melakukan permainan lain”.

 Namun badan tersebut menambahkan: “Anak-anak bisa didorong untuk menyaksikan program televisi edukatif bagi mereka yang berusia dua sampai lima tahun.”

Radikal

 Anggota lembaga badan perkembangan mentalitas Inggris, British Psychological Society, Dr Aric Sigman telah melakukan penelitian sendiri, terkait dampak TV pada anak-anak.

 Ia mengatakan: “Rekomendasi saya kepada pemerintah lima tahun lalu dan juga tiga tahun lalu adalah agar mereka mengeluarkan garis besar aturan tentang waktu nonton TV pada anak dianggap radikal dan kontroversial.

 “Namun bukti menunjukkan bahwa pemerintah dan pejabat departemen kesehatan memang harus melakukan hal itu.

 “Hasil ini merupakan penelitian lain yang membuktikan bahwa masyarakat perlu menerima bahwa waktu anak-anak menontot televisi adalah masalah besar dalam kesehatan.”

 Penting mendidik anak agar tak gegabah meniru perilaku dalam tayangan layar kaca.

 Fakta Program Televisi dari data yang dikumpulkan Michigan University, Amerika:

     2/3 dari semua program televisi di Amerika memuat kekerasan.

    Program yang didesain untuk anak mengandung lebih banyak kekerasan daripada program untuk orang dewasa. Misalnya film-film kartun.

    Kerapnya tokoh baik memukul tokoh jahat dapat memberi pesan salah pada anak bahwa memukul seseorang boleh-boleh saja.

    Banyak adegan kekerasan, bahkan kematian yang dibawakan dengan cara humor sehingga tak lagi membuat anak takut atau merasa bersalah akan konsekuensi jika ia melakukan hal yang sama.

    American Academy of Pediatrics menyarankan orang tua sebaiknya membaca jadwal dan review acara televisi terlebih dahulu sebelum anak menonton satu program acara. Sempatkan pula bicara dengan guru dan dokter anak untuk tahu  apa rekomendasi mereka

 Awasi Tontonan Anak – Anak Islam !

     Buat aturan menonton TV untuk anak islam yang disetujui bersama. Misalnya dilarang menyalakan TV saat makan malam bersama, atau saat orang tua tak bisa mengawasi.

    Batasi waktu menonton TV, yaitu satu jam pada hari biasa dan 2 hingga 3 jam di akhir minggu.

    Jangan gunakan menonton TV sebagai hadiah atau hukuman karena  dapat membuat TV semakin tinggi nilainya di mata anak.

    Sebisa mungkin dampingi anak saat menonton sehingga Anda dapat langsung meluruskan pendapatnya yang tidak tepat.

 Pilih Tontonan Yang:

     Mengandung nilai-nilai positif, misalnya mau berbagi, rajin  santun dan sayang sesama

    Sesuai minat anak.

    Merangsang keingintahuan balita, sehingga dapat menjadi ajang diskusi.

    Membantunya belajar kata-kata atau bahasa.

    Membuat anak senang.

    Mengembangkan minat anak pada aktivitas lain seperti membaca, hobi dan kegiatan luar ruang.

 Melunturkan “TV Mania”

     Alihkan perhatian dengan memperbanyak kegiatan yang melibatkan interaksi antara Anda dan anak dengan cara-cara seru, di antaranya dengan membacakan buku cerita. Terlalu sering menonton TV mengurangi ketertarikan balita pada buku.

    Kurangi jam menonton TV secara perlahan namun pasti.

    Selingi kegiatan pasif, misalnya membaca buku, menonton TV dengan kegiatan aktif yang mengasyikkan, seperti bersepeda, berolahraga dan lainnya.

    Aturan menonton TV tidak akan berhasil jika orang tua tak bisa menahan diri untuk tidak menonton TV di depan anak-anak.

    Penting mengantisipasi sebagai berjaga-jaga. Amankan daerah bermain si kecil dari benda-benda berbahaya, misalnya hiasan rumah yang berat sehingga dapat melukai anak atau kunci jendela apartemen jika tinggal di apartemen.

 Hanyut Dalam Kekerasan?

     Bila perilaku balita membahayakan diri sendiri atau temannya, orangtua perlu tegas. Atur emosi dan dengan tenang ingatkan aturan yang ditetapkan bersama di rumah. Misalnya, ”Stop!  Bukankah aturannya tidak boleh ada yang menyakiti orang lain atau merusak barang di rumah ini?”

     Jika ia sudah memukul, fokuskan perhatian Anda pada korban dengan mencoba menyuarakan apa yang dirasakan si korban. Misalnya, “Aduh, pasti sakit ya dipukul.” Cara ini akan menyadarkan balita bahwa perbuatannya menimbulkan efek buruk pada orang lain.

    Setelah itu tanyakan mengapa anak melakukannya, sekaligus menanyakan pendapat si kecil tentang tayangan yang ditontonnya. Siapa tahu ia keliru menangkap makna. Luruskan kesalahannya, ”Superman adalah manusia super yang dapat terbang, sedangkan kita manusia biasa dan tidak pernah dapat terbang. Kalau memaksa terbang maka akibatnya…”

    Ajak anak memikirkan efek dari perilakunya terhadap orang lain, benda-benda dan sebagainya, dan apa efeknya bagi dirinya. Jelaskan sesuai tingkat pemahamannya.

    Sebaiknya ada aturan tentang menyakiti orang lain dan merusak barang. Bicarakan konsekuensi jika ia melakukan hal tersebut dan terapkan setelah disetujui bersama.

    Pelajari lagi program TV yang membuat anak meniru. Tinjau kembali positif dan negatifnya program tersebut, apakah dapat dipertimbangkan untuk tetap ditonton atau sebaiknya ditiadakan saja dari daftar tontonan anak Anda.

Pos ini dipublikasikan di TEORI DAKWAH dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s