Pendidikan Anak Dalam Islam


Cara Mendidik Anak Dalam Islam

Salah satu pendidikan anak dalam islam yang membutuhkan presisi maksimal ketika mendidik, dengan harapan tidak salah dalam mendidik. Berikut ini ada sebuah hadits yang menarik berkaitan dengan cara Rasulullah saw mendidik anak.

metode-pendidikan-anak-dalam-islam

METODE PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM

Dari abu Qatadah disebutkan, “Rasulullah shalat bersama kami sambil menggendong Umamah binti Zainab. Jika ia sujud, diletakkannya Umamah. Dan bila berdiri, digendongnya.” Ada pula hadits dari An Nasai yang berasal dari Abu Barrah bahwa Rasulullah saw shalat bersama sahabatnya, lalu beliau sujud. Ketika itu datanglah Hasan yang tertarik melihat Rasulullah saw sedang sujud, lalu naiklah Hasan ke punggung Rsulullah saw yang mulia saat beliau sedang sujud. Rasul memanjangkan sujudnya agar tidak menyakiti Hasan. Usai shalat, ia meminta maaf kepada jamaah shalat dan mengatakan, “anakku tadi naik ke punggungku lalu aku khawatir bila aku bangun dan penyakitinya. Maka aku menunggu sampai ia turun.”

Perlu dipahami bahwa anak tumbuh-kembang secara bertahap. Beberapa materi yang penting sejak dini ditanamkan adalah pendidikan keimanan, pendidikan untuk membiasakan beribadah, pendidikan akhlaq, pendidikan emosi, dan sebagainya.

Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Menurut Islam

Fase pertumbuhan anak menurut islam, berdasar ayat ini adalah :

Masa embiro yakni masa anak dalam kandungan (mulai dari saat terjadinya union, antara sperma pria dan ovum perempuan (nutfah), kemudian berupa segumpal darah (‘alaqah) dan kemudian menjadi segumpal daging (mudgah).

    Masa kanak-kanak (vital dan estetis)

    Masa perkembangan (remaja)

    Masa dewasa

    Masa tua

    Meninggal.

Perkembangan Anak Secara Psikologis

Adapun perkembangan anak secara psikologis dilihat dari segi pandangan Islam menurut seorang sarjana islam yang bernama Ali Fikry, adalah sebagai berikut :

Masa kanak-kanak adalah sejak anak itu lahir sampai umur tujuh tahun. Pada fase ini terjadi proses seperti ini :

¾     Anak yang telah sampai umur 40 hari, sudah dapat tersenyum dan dapat melihat.

¾     Sudah dapat merasa sakit, merasakan hajat biologis.

¾     Umur enam bulan anak telah mempunyai kemauan.

¾     Umur tujuh bulan anak mulai tumbuh giginya.

¾     Memasuki tahun kedua, anak mulai dapat berjalan.

¾     Tahun ketiga pada diri anak telah terbentuk keinginan serta kemauannya.

¾     Tahun keempat anak telah mulai mempunyai dzakirah (ingatan)

¾     Tahun ketujuh anak dapat menetapkan sesuatu menurut hukum-hukum sendiri.

Masa berbicara; mulai tahun kedelapan sampai tahun ke-14. Masa ini disebut juga periode cita-cita. Sebab pada masa ini anak menuju kearah segala sesuatu yang berhubungan erat dengan tabiat dan akalnya.

    Masa akil baligh; dari umur 15 sampai 21 tahun.

    Masa syabiah (edolisen); dari umur 22 sampai 26 tahun.

    Masa rajullah (pemuda pertama atau dewasa); 29 sampai 35 tahun.

    Masa pemuda kedua; dari umur 36 sampai 42 tahun.

    Masa kuhulah; dari 43 sampai 49 tahun.

    Masa umur menurun dari 50 sampai 56 tahun.

    Masa kakek-kakek/nenek-nenek pertama dari 56 tahun sampai 63 tahun

    Masa kakek-kakek/nenek-nenek kedua dar 64 sampai 75 tahun.

    Masa haron (pikun) dari 75 sampai 91 tahun.

    Masa meninggal dunia.

Secara Pedagogis, pertumbuhan anak  menurut pandangan islam. Dapat dilihat seperti yang telah dikemukakan Nabi saw sesuai sabdanya :

قل انس : قل لنبى صلعم : الغلام ىعق عنه ىوم السابع وىسمى وىحاط عنه الاذى فاذابلغ ست سنىن ادب فاذا بلغ تسع سنىن عزل فرا شه فاذا بلغ ثلاث عشرة سنة ضرب على الصلاة فاذا بلغ ست عشرسنة زوجه ابوه ثم اخذ بىده وقال: اد بتك وعلمتك وانكحتك اعوذبالله من فتنتك فى اادنىا ؤعذابك فى الاخرة*

Artinya:

“berkata anas; bersabda Nabi saw; anak itu pada hari ketujuh dari lahirnya disembilihkan aqiqah dan diberi nama serta dicukur rambutnya, kemudian setelah umur enam tahun dididik beradab, setelah Sembilan tahun dipisah tempat tidurnya, bila telah umur 13 tahun dipukul Karena meninggalkan sembahyang. Setelah umur 16 tahun dikawinkan oleh orang tuanya (ayahnya), ayhnya berjabat tangan dan mengatakan; saya telah mendidik kamu, mengajar dan mengawinkan kamu. Saya memohon kepada tuhan agar dijauhkan dari fitnahmu di dunia dan siksamu di akhirat”

Dari ayat dan hadits tadi dapat ditarik pengertian bahwa fase-fase pertumbuhan anak secara paedagogis adalah sebagai berikut :

    Fase pendidikan pada saat anak masih dalam kandungan ibu.

    Fase pendidikan secara dresser (pembiasaan) terhadap hal yang baik-baik dari sejak lahir sampai pada usia enam tahun.

    Fase anak dididik tentang adat kesusilaan yang dimulai pada saat anak mulai berumur 6 tahun.

    Fase anak dididik seksuilnya. Sehubungan dengan watak anak yang suka meniru perbuatan orang lain terutama orang tuanya. Maka pada usia sekitar 9 tahun ini anak harus dipisahkan tempat tidurnya dari orang tuanya, sebab bila hubungan seksuil ayah dan ibu sampai dilihat anak, akan membahayakan jiwanya, karena ingin menirunya.

    Fase pandidikan untuk menenangkan jiwa anak dengan mengharuskannya menjalankan shalat. Umur anak pada fase ini sekitar 13 tahun, dikenal dengan masa sturm und drag (puberteit) dimana anak mengalami kegoncangan-kegoncangan jiwa yang sangat membutuhkan pimpinan yang sangat teguh. Dengan shalat kegoncangan jiwanya itu dapat ditenangkan.

    Fase pendidikan terhadap anak yang telah mengalami kedewasaan nafsu sexuilnya. Agar tidak terjadi akses-akses yang merugikan yang berlangsung sekitar umur 16 tahun. Oleh karena menurut pandangan islam, anak yang berumur 15 tahun itu sudah dewasa, maka dalam pengendalian nafsu sexual (birahi) anak pada fase ini ditempuh dengan cara mengawinkan bagi mereka yang sudah berhasrat untuk berkeluarga dan melaksankan puasa bagi yang belum berhasrat untuk berkeluarga.

Dari Mana Harus Memulai Pendidikan Anak Dalam Islam

Segala sesuatu adalah berproses, demikian juga dalam hal mendidik anak dalam islam. Berikut beberapa tahapan dalam membina dan mendidik anak.

• Memilih istri (ibu bagi anak) yang sholihah

• Membiasakan anak untuk mengerjakan ibadah

• Memberikan teladan yang baik

• Menjauhkan mereka dari temen-teman yang buruk

• Membentengi diri mereka dari hal hal yang merusak akhlak mereka

• Mengajarkan nilai-nilai luhur dalam ajaran islam

• Bersikap adil

• Mendoakan kebaikan bagi mereka

Hendaknya orang tua menyadari bahwa hidayah berada di tangan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Alloh memberikan hidayah  kepada siapa saja yang Ia kehendaki dengan rahmat dan karunia-Nya, sedang orang tua hanya bisa mengajarkan, mengarahkan, dan membimbing anak-anaknya. Oleh karena itu hendaknya memperbanyak berdoa untuk kebaikan mereka.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“ mereka  berdoa: “ wahai Robb kami, berikanlah kami penyejuk hati dari istri-istri dan anak-anak kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al-Furqon: 74)

Pos ini dipublikasikan di TEORI DAKWAH dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s