Cita-Cita Ku


Cita Cita Ku

Di bawah ini adalah dua cerita yang intinya hampir sama yaitu tentang perjuangan , semua cita cita harus di perjuangkan apalagi cita-cita tersebut adalah cita-cita tentang hal yang baik yang perlu kita ambil hikmahnya. Antara rendi yang hidup tidak punya apa-apa namun ingin kuliah di jepang dan atas ridha allah terkabulah cita-cita rendi. Satu lagi cerita tentang broken home yang ternyata setelah dia menyadari betapa kejamnya dirinya dengan anaknya dan menelantarkan ibunya, ternyata anak tersebut menyimpan mutiara yang sangat mahal, si ibu itu akhirnya bersumpah akan mendidik anaknya sehingga kelak benar-benar menjadi anak yang sholih.

Kisah Cerita Cita Cita Rendi

cita-cita-saya-guru

cita cita saya guru

Terlahir bukan dari kalangan bangsawan.Bukan darah biru yang mengalir di tubuh.  Hidup di sebuah desa  yang terpencil  dengan  kehidupan yang pas-pasan tak menyurutkan tekad seorang  pemuda yang bercita-cita ingin pergi ke salah satu Negara maju di kawasan Asia  yaitu Jepang .Pemuda itu Rendi namanya. Karena impiannya yang tinggi tersebut ,banyak orang yang mengolok-oloknya bahwa keinginan itu tak mungkin terwujud .Dalam kesehariannya ia selalu membayangkan bisa pergi ke Jepang . Bahkan di sudut –sudut  kamarnya penuh dengan  tempelan yang berhubungan dengan  Jepang ,seperti : group band asal jepang sampai tokoh politik di Negara tersebut juga tidak ketinggalan .  Suatu saat Bu Ayu ibunya Rendi yang hanya  seorang buruh tani menanyainya  “Apa cita-citamu Nak?  Dengan penuh semangat Rendi menjawab: “Aku ingin pergi ke Jepang “

“ Kenapa kamu ingin pergi ke jepang,Nak ?” Bu Ayu kembali menanyai Rendi”

“Di Jepang banyak sekali orang terkenal Bu, dan teknologinya sangat maju, ujar Rendi dengan penuh semangat !!!”

“Siapa yang memiliki Jepang????”

“Tuhan ,yang memiliki Jepang !!!!! ”

“Ya sudah minta saja kepada Tuhan , doa yang rutin”

Setelah mendengar itu Rendi pun berdo’a. Dalam sela-sela do’anya selalu ia sisipkan permintaan agar ia bisa pergi ke Jepang .Kebiasaan yang dilakukan selama 2 tahun tetapi ia hanya berdo’a,tidak  diimbangi dengan usaha.

Setelah kelulusan SMA,ada lowongan  beasiswa belajar di Jepang. Mengetahui itu Rendi langsung mencobanya.Namun apa daya ,hasil yang  diperoleh tidak sesuai dengan  harapannya. Rendi gagal memperoleh beasiswa itu. Kejadian tersebut  membuat Rendi putus asa.Tetapi semangatnya kembali membara setelah di nasehati sang ibu ,bahwa hidup itu perjuangan,butuh pengorbanan  dan kesabaran .Akhirnya Rendi memutuskan merantau ke kota .

Dia terus berusaha mencari pekerjaan,tetapi tak kunjung mendapatkan pekerjaan.Suatu ketika  usahanya sudah diujung tanduk dan  ia  memutuskan untuk kembali ke desa.Ia melihat selembar kertas yang berserakan di tepi jalan ,kertas itu berisi lowongan pekerjaan di sebuah tempat Pariwisata.Berbekal IJASAH SMA , sedikit keahlian berbahasa inggris dan do’a dari sang ibu, Rendi pun berani mencoba ,alhasil ia diterima dan ditempatkan bekerja di sebuah pantai di daerah Sumatra.

Suatu hari ada seorang duta besar Jepang  yang  bernama satoshi-san akan melakukan penelitian tentang budaya setempat.Tak di sangka Rendi terpilih untuk menjadi pemandu satoshi-san  yang sedang melakukan pengamatan.Karena kecakapan Rendi dalam menjamu tamu.satoshi-san  merasa nyaman dan cocok dengan Rendi.Suatu ketika satoshi-san  bertanya tentang  kehidupan Rendi.Rendi pun menceritakan tentang cita-citanya ,betapa banyaknya kegagalan yang ia alami untuk mewujudkan impiannya yakni bisa menginjakan kaki di NEGERI SAKURA.Mendengar cerita Rendi ,satoshi-san  menawarkan untuk  membiayai kuliah Rendi di Jepang .Dengan suara lantang tanpa ragus Rendi menjawab “ya”. Tak sia-sia usahaku ini.

Jurang yang amat dalam,jarak yang terlampau jauh sekarang terasa begitu dekat.Seaka-akan NOL km  dari pandanganku .Itu semua buah dari kesabaran”ujar Rendi dalam hati.

 Cita Cita Ingin Berbuat Baik

Hidup sebagai single parent tentu saja bukan sebuah cita-cita.Tak pernah terbesit dalam benakku akan menjalani hidup seperti itu.Tetapi itulah hidupku sekarang.seoramg diri membesarkan seorang anak dengan himpitan ekonomi yang semakin mendesak . Apalagi ditambah harus merawat ibuku yang sudah renta degan penyakit stroke yang diderita, semua itu tentu saja menjadi beban berat yang harus ku pikul sendirian.

Di rumah kecil yang hampir roboh , setiap harinya pasti terdengar suara benda jatuh.Apalagi kalau karena bukan karena ibuku. Penyakit stroke yang diderita membuatnya tak bisa melakukan semua hal dengan benar.

Semua bertambah parah ketika waktu makan tiba, ibuku menjatuhkan pring,gelas, atau semau benda yang ada di sekitarnya.Setiap hari pula aku harus membersihkan pecahan piring atau gelas.Ketika aku melihat hanya tersisa 2 piring di dapur ,akupun punya sebuah ide , yakni membelikan samik untuk ibuku.Bahkan aku tega meninggalkan ibuku sendirian makan di meja dapur . Padahal aku dan Rio anakku makan di meja makan .Semua itu kulakukan agar tak ada lagi piring dan gelas yang pecah.Aku melihat ibuku meneteskn air mata pada saat itu .Tetapi tanpa rasa bersalah sedikitpun, aku berpura-pura tidak melihat hal itu, bahkan saat Rio menoleh kearah ibuku yang sedang makan di meja dapur, seakan-akan ia ingin menemani ibuku, aku langsung melarangnya.

Hari semkain petang, malam semakin menghening, aku mendengar suara dari arah kamar Rio.Setelah ku buka pintu kamar itu, aku melihat Rio sedang memotong kertas, dengan rasa bingung aku mendekati Rio. “ kamu sedang apa nak “ tanyaku ,” aku sedang membuat piring kertas “ jawab Rio “.Akupun semakin bingung dengan tingkah Rio di malam itu, aku kembali menanyainya “ Buat apa kamu membuat piring kertas” “ piring kertas ini untuk ibu jika sudah tua nanti” jawab Rio.Hatiku terasa teriris-iris mendengar itu.Tak terpikir olehku jika anak yang selama ini kuperjuangkan , satu-satunya harapanku di masa depan bisa mengucapkan hal itu,seketika aku langsung teringat oleh ibuku.Aku keluar ke kamar Rio dan menengok ke kamar ibuku.Aku melihat ibuku sedang tertidur lelap di kasur tua yang sudah tidak kayak ditiduri, tak terasa air mataku membasahi pipiku, aku pun masuk ke dalam kamarku, dalam benakku betapa kejamnya diriku ini.Aku sangat membenci suamiku yang telah mencampakanku dan Rio,tetapi selama ini aku tidak sadar telah mencampakan ibuku,seseorang yang telah melahirkanku dan membesarkanku. Aku sadar tanpa Ridho ibuku aku tidak akan berhasil dunia dan akhiratnya.Seakan saat itu aku merubah kebiasaan dalam keluargaku terutama sikapku terhadap ibuku tersayang.

Pos ini dipublikasikan di TEORI DAKWAH dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s