Cara Mencari Ilmu Bagi Umat Islam


Cara Mencari Ilmu

Mencari ilmu wajib bagi tiap individu muslim, mencari ilmu itu wajib walau sampai ke negeri cina, mencari ilmu itu dari ayunan sampai liang lahad, itulah nasihat cara mencari ilmu yang sering di samapaikan oleh ustadz di setiap awal pengajian. Ketika seorang telah mahir dan menguasai ilmu agama maka tidak akan terpengaruh dengan yang lainya. Alquran yang akan menunutnya ke jalan yang benar bukan sebaliknya orang yang tidak berilmu alquran akan mendorongnya masuk ke dalam neraka, namun fenomena saat ini ilmu agama sudah banyak yang meninggalkan, ada yang beajar ilmu agama bukan utnuk kefahaman akan tetapi karena ingin di wah , ingin terpandang di masyarakat dan lain-lain, itu semua seudah keluar dari kaidah para tholib.

mencari-ilmu-dunia-dan-akhirat

mencari ilmu dunia dan akhirat

Adab-Adab Cara Mencari Ilmu

Banyak sekali adab cara mencari ilmu , termasuk di antaranya adalah :

1. Ikhlash Lillah

Hendaklah seorang pencari ilmu selalu mengoreksi dan memperbaiki niyatnya, beramal untuk-Nya, menghidupkan syariat-Nya, menerangi hati dan batinya dan selalu taqarub kepada Allah.

2. Menjaga diri secara lahir dan batin dari hal-hal yang bertentangan dengan hukum Allah

Thalib Ilmy, harus selalu menampakkan secara nyata sunnah Nabi dan meninggalkan amalan-amalan bid’ah dalam segala keadaan.

Abdul Malik Al-Maimuni : aku belum pernah melihat manusia sehebat Imam Ahmad bin Hambal, pakaiannya selalu putih-bersih, kumisnya bersih, jenggotnya rapi dan janjinya selalu tepat. Beliau diam dan geraknya selalu menghidupkan sunnah.

Khotib Al-Baghdady : tholib ilmy harus meninggalkan sendagurau, tertawa terbahak-bahak, boleh saja tertawa namun jangan sampai keluar dari etika ilmu. Sebab tertawa akan mematikan hati dan mengurangi wibawa seseorang.

Imam Malik : hendaklah tholib ilmy selalu bersikap lunak, tenang dan khusyuk dan selalu mengikuti akhlaq orang-orang terdahulu.

Menjaga batin disini maksudnya : menghindarkan diri dari akhlaq yang tercela dan sifat-sifat tidak terpuji. Karena ilmu itu merupakan ibadahnya hati, hubungan yang tersembunyi tetapi membawa kedekatan diri kepada Allah Ta’ala.

Abu Hamid : hati ibarat rumah, ia merupakan tempat turunnya Malaikat, tempat bersandarnya keputusan, maka sifat tercela seperti marah, syahwat, iri-dengki, sombong, berbangga dan sifat keji lainnya jika selalu menggema di dalam hati, itu ibarat binatang anjing yang menggongong, kalau sudah begitu bagaimana mungkin Malaikat akan masuk ke dalam rumah-nya ?

 3. Fikiran & hatinya konsentrasi kepada ilmu, Singkirkan rintangan dan kebiasaan buruk

Kebiasaan bermalas-malas, bersantai ber-mental cengeng adalah rintangan seorang pencari ilmu. Ini adalah betul-betul merupakan halangan.

Ada tiga hal yang akan merintangi perjalanan manusia kepada Allah : 1. Syirik 2. Bid’ah 3. Maksiat. Syirik akan tumbang dengan Tauhid, Bid’ah akan tumbang dengan Sunnah dan maksiat akan tumbang dengan taubat.

Syu’bah berkata : kamu sangat sibuk dengan bisnis di pasarmu, pantas kamu sukses hebat duniamu, sedangkan saya belajar hadits, maka saya menjadi papa.

Sofyan bin Uyainah : tinta-tinta ilmu dan kajian hadits tidak akan memasuki rumah, kecuali aktivitas itu akan menjadikan papa keluarga dan anak-anaknya.

Maksudnya, meskipun kesibukan taklim keluar rumah, jangan sampai keluarganya berantakan nasib ekonomi dan jaminan keamanannya.

Apabila seorang tholib datang kepada Sofyan Ats-Tsauri maka ia ditanya : Apa kamu sudah punya maisyah/penghasilan ekonomi, bila jawabannya belum, ia disuruh pulang, bila jawabnya sudah dan cukup, maka boleh ikut belajar bersama Sofyan Ats-Tsauri.

4. Selalu berhati-hati dalam masalah makan

Rosulullah bersabda : Sesungguhnya syetan betul-betul berjalan mengalir lewat aliran darah manusia, maka persempitlah aliran darah itu dengan cara berlapar-lapar, agar syetan tidak bisa masuk. Hadits Riwayat Ahmad.

5. Sedikit tidur dan bicara

Al-Hasan bin Ziyad rajin mengkaji ilmu-ilmu keislaman, dia berumur 80 tahun, selama 40 tahun-nya ia jarang tidur.

6. Mengurangi pergaulan jika perlu dan selektif memilih kawan

Pergaulan jika mampu adalah pergaulan yang membawa kebaikan dan takwa, hal itu sangat dianjurkan, akan tetapi jika membawa maksiat dan dosa itulah yang dilarang.

7. Memilih ilmu yang dibahas dan siapa pengajarnya / Syeikhnya

Seorang pencari ilmu harus berfikir hal yang terpenting sebagai pijakan untuk melangkah.

8. Menjaga adab terhadap Guru / Syeikhnya

Ibnu Thowus mendengar dari bapaknya : menghormati guru adalah sunnah.

Maimun bin Mihran : janganlah kamu berdebat dengan orang yang lebih pintar darimu, itu tidak akan membawa manfaat bagimu.

9. Menjaga adab terhadap kitab

Kitab adalah alat ilmu. Orang-orang salaf sangat serius menjaga kitab-kitab mereka. Murid selalu berusaha menyiapkan buku-buku yang ia butuhkan, dengan cara membeli ataupun meminjam, sekali lagi karena buku itu sangat penting.

10. Adab di ruang belajar

Seorang murid ketika memasuki majlis hendaklah punya semangat yang membara, hatinya konsentrasi pada pelajaran, tidak terganggu oleh kesibukan luar majlis, ketika memasuki ruangan hendaklah menebarkan salam dengan suara yang terang.

Fenomena cara mencari ilmu Saat Ini

Ketika Tidak Ada Orang Yang Berilmu Maka Manusia Akan Mengangkat Pemimpin Yang Bodoh, itulah sedikit keterangan dalam hadist di bawah ini, dan tentang fenomena niat / cara mencari ilmu Saat Ini.

  عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا * رواه البخاري

Artinya : Dari Abdullah Bin ‘Amar Bin ‘Ash r.a berkata; Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah taala tidak menghilangkan ilmu agama itu dengan dicabutkan sekaligus dari manusia, tetapi Allah taala akan menghilangkan ilmu itu dengan mematikan para ulama. Sehingga apabila sudah tidak ada para ulama, manusia akan melantik pemimpin mereka dari kalangan golongan jahil, lalu mereka akan ditanya hukum sesuatu masalah, maka mereka menjawab atau berfatwa tanpa ilmu pengetahuan, maka mereka sesat dan menyesatkan orang lain.

Para ulama akhirat yang adalah pewaris para anbiya. Banyak yang telah meninggalkan kita. Tahun demi tahun kita melihat para ulama dipanggil ke hadrat Allah taala dan sedikit sekali yang dapat menggantikan mereka. Kalau ada yang menggantikan pun maka kualitasnya jauh lebih rendah dari pendahulunya.

Dari sisi lainbanyak para tholib yang datang ke pondok bukan karena kemauanya sendiri, tetapi atas paksaan dari orang tuanya, cara mencari ilmu seperti ini atau mainset yang keluar ini akan membuat susah sebuah pesantren. Dan ada pula yang datang belajar ke pondok sebagai pelarian dari keadaan yang sudah tidak karuan. Ketika orang tua sudah habis akalnya untuk membimbing anak mereka, maka ketika itulah anak mereka diserahkan ke pondok untuk diperbaiki. Jadi, pondok-pondok tidak ubah seperti bengkel untuk anak-anak yang sudah rusak. Untunglah kalau anak yang seperti ini dapat berubah. Kalau tidak, maka akan berkumpul di pondok-pondok anak-anak yang sudah tidak dapat diurus lagi. Mereka akan membentuk satu fenomena baru dalam kawasan pondok.

Pos ini dipublikasikan di TEORI DAKWAH dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s