Masjid Jamik


Masjid Jamik Pangkal Pinang Bangka Belitung

Masjid Jamik Pangkalpinang adalah salah satu masjid tua di Propinsi Bangka Belitung. Lokasi masjid di pusat Kota Pangkalpinang, berada diantara Jalan Kampung Dalam di bagian timur, dan Jalan Kenangan di bagian barat. Sisi selatan masjid merupakan kediaman ulama setempat, sisi utara masjid adalah Sungai Rangkui. Karena letaknya yang sangat strategis, biasanya menjadi tempat singgah para musafir dan pekerja kantoran untuk melaksanakan sholat wajib.

masjid-JAMIK-pangkalpinang

Masjid Jamik Pangkal Pinang

Masjid Jamik Nur Sulaiman Banyumas

Masjid Jamik Nur Sulaiman terletak di sebelah barat Alun-alun kota lama Banyumas. Masjid Nur Sulaiman berdiri pada tahun 1725, semasa Bupati Banyumas ke VII Adipati Yudonegoro II (1708-1743), bersamaan dengan dipindahkannya ibukota Kabupaten Banyumas dari Karangkamal (sekarang Kalisube) ke timur, yaitu Grumbul Gegenduren, sekaligus dibangunnya Pendopo Kabupaten Banyumas yang terkenal dengan nama Pendopo Si Panji.

Masjid Nur Sulaiman didirikan oleh Kyai Nur Sulaiman dari Gumelem dengan diarsiteki oleh Kyai Nur Daiman dari Gumelem juga. Beberapa peninggalan yang masih asli misalnya bedug, mimbar, sumur, sakaguru, dan sebagian tembok.

masjid-JAMIK-agung-banyumas

Masjid Jamik Banyumas

Melihat keberadaan masjid Nur Sulaiman Banyumas ini mengingatkan kita pada pola segitiga antara kraton/kabupaten, alun-alun dan tempat ibadah seperti pada jaman Majapahit dengan berorientasi pada sumbu ‘keramat’ utara selatan. Sehingga terlihat jelas ekspresi dari kesatuan pemerintah, rakyat dan agama (Tuhan). Masjid ini termasuk dalam kategori non hypostyle.

Keunikan yang ada pada masjid ini adalah ruang mihrab terpisah atapnya dengan ruang utama. Dan konstruksi pada bangunan ini menggunakan sistem tajug mangkurat. Ragam hias pada masjid ini sebagian besar menggunakan motif floral arabeasque dan intricate dan berpola simetris.
Masjid Nur Sulaiman Banyumas merupakan masjid yang memadukan unsur budaya barat dengan budaya lokal meskipun budaya lokal lebih dominan. Ini terlihat dengan adanya umpak berbentuk molding. Pada umumnya bangunan masjid kuno di Jawa ini terlihat jelas sebagai bentuk vernacular.

Atap mesjid ini berbentuk tajug bersusun tiga, paling bawah disebut penitih, tengah disebut pananggap dan puncaknya berbentuk piramidal brunjung dihias dengan mustaka. Pada celah antara dua atap bertumpuk terdapat celah sehingga cahaya alami dapat masuk. Menurut pandangan, atap berbentuk tajug tidak sesuai untuk rumah duniawi, namum khusus digunakan untuk candi, masjid dan tempat-tempat ibadah lainnya. Karena atap tumpang yang berundak itu adalah hasil kesenian Indonesia sendiri, yang berupa bangunan meru, dimana pada bangunan jaman sebelum Islam hal itu telah banyak ditemui dan berfungsi sebagai bangunan suci (GF. Pijper, 1987:275). Sekalipun atap rumah di Indonesia, khususnya di Jawa tidak bertingkat, tetapi sesuatu dasar untuk dijadikan atap bertingkat telah ada ialah atap yang berbentuk joglo (Sucipto Wiryosuparto, 1962: 153).

Keunikan yang ada di Masjid Nur Sulaiman adalah ruang mihrabnya mempunyai atap sendiri. Atap tersebut berupa tajug bersusun dua, dan dilengkapi dengan mustaka berbentuk mirip gada. Atap mihrab yang terpisah dengan atap ruang utama masjid tampaknya menjadi prototipe bagi masjid-masjid yang lebih muda di wilayah Banyumas. Hal ini dapat dijumpai antara lain pada masjid kuno di komplek makam para Bupati Banyumas di desa Dawuhan, Banyumas. Ini berbeda denagn masjid-masjid Agung Islam kuno pada umumnya yang atap mihrabnya menjadi satu dengan ruang utama, misalnya Masjid Agung di Demak, Kudus, Yogyakarta ataupun Surakarta.

Dilihat dari jumlah atap masjid ini terdiri dari tiga organisasi ruang, yaitu: Serambi, Ruang utama dan mihrab. Pada Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas tidak terdapat kolam di depan atau sekeliling bangunan masjid seperti yang terdapat pada masjid Jawa kuno, namun terdapat bangunan fasilitas yaitu tempat wudlu bagi pria dan wanita. Disamping itu terdapat beberapa bangunan baru yaitu kantor KUA, kantor BKM dan kantor Penilik Pendidikan Islam.

Serambi sebagai salah satu komponen masjid kuno berdiri di depan ruang utama. Serambi yang berukuran 11 x 22 m ini sekarang berfungsi sebagai tambahan tempat sholat, tempat anak-anak belajar Al-Qur’an dan pelajaran agama lainnya. Pada bagian depan serambi terdapat emperan yang atapnya merupakan perpanjangan dari atap serambi. Lantai serambi ditinggikan 130 cm dari permukaan halaman masjid. Menurut keterangan pengurus BKM permukaan lantai serambi ini dahulu berupa plesteran saja. Akan tetapi pada perbaikan yang dilakukan pada tahun 1929 lantai serambi ditutup tegel berukuran 20 x 20 cm. Tegel serambi disusun sebagi berikut: bagian pinggir ditutup tegel abu-abu, sedang bagian tengah ditutup tegel warna-warni bermotif geometrik dan bunga yang disusun menurut pola tertentu. Ruang serambi ini mempunyai dinding di sisi utara dan selatan, sisi timur terbuka, sedang sisi barat terdapat dinding pembatas antara serambi dan ruang utama. Dinding sisi utara dan selatan masing-masing mempunyai dua pintu yang ambang atasnya berbentuk lengkung. Kedua pintu itu mengapit satu jendela berbentuk segi empat.

Masjid yang saat ini sedang dalam pengerjaan renovasi dua menara yang dimilikinya ini terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama digunakan sebagai tempat sholat. Ruang utamanya mampu menampung 600 jama’ah. Lantai kedua digunakan untuk penyimpanan kitab-kitab, buku-buku ajaran Islam, tikar dan alat perlengkapan masjid lainnya. Lantai ketiga digunakan untuk mengumandangkan adzan.

Pertama kali dibangun pada tanggal 3 Syawal 1355 Hijriah, atau pada tanggal 18 Desember 1936 Masehi. Data itu tertulis di atas meja yang terbuat dari batu marmar putih yang terletak di depan masjid. Bentuk awalnya tidak seperti sekarang ini. Keadaan masjid saat itu masih menggunakan dinding papan, berlantai semen dan beratap genteng. Letaknya juga sudah berubah, diperkirakan awalnya berada di antara tempat wudlu dan menara masjid yang sekarang.  Dahulu, di sekelilingnya adalah rawa-rawa, sungai dan pepohonan rumbia.
Perombakan pertama Masjid Jamik Pangkalpinang  dilakukan berdasarkan hasil musyawarah para tokoh agama, tokoh masyarakat, pengusaha  dan pejabat pemerintah pada hari Minggu 12 November 1950 menjelang sholat maghrib. Dari hasil musyawarah ini terbentuklah panitia pembangunan masjid dengan ketua KH. Mas’ud Nur, yang saat itu sebagai penghulu Pangkalpinang. Selain itu, nama-nama dari kepanitiaan adalah  H. Abdullah Addary, H. M Ali Mustofa, H. Mochtar Jasin, H. Masdar, H Hasim, H. Idris. H Goni, Fattahullah dan yang lainnya.

Biaya yang dianggarkan untuk pembangunan masjid ini sebesar Rp 1,2 juta. Untuk menutupi kekurangan dana, kepanitian mengedarkan amplop yang bergambar Masjid Jami dan diedarkan ke kampung-kampung. Namun, sebelum memberikan amplop, panitia memberikan ceramah agama dan mengutarakan maksud kepada masyarakat kampung, tujuan melakukan pengumpulan dana itu.
Kampung-kampung yang dituju untuk pengumpulan dana dibedakan menjadi Bangka Barat yang di dalamnya ada Kampung Kemuja, Petaling, Air Duren, sampai ke Muntok. Bangka Selatan yang di antaranya Koba, Nibung, Payung, Permis dan Bangka Utara seperti Baturusa, Sungailiat, hingga Belinyu. Bahkan Wakil Presiden Mohammad Hatta sempat menyumbang sebesar Rp 1.000 untuk pembangunan masjid ini.

Sebelum melakukan pembangunan, dilakukan penimbunan kolong di dekat Sungai Rangkui yang dalamnya sekitar 10 meter dengan panjang sekitar 37 meter. Untuk menimbun kolong ini dilakukan dengan gotong royong dengan melibatkan unsur sipil dan militer.

Menurut catatan dari buku Risalah Pembangunan Mesjid Jamik disebutkan PT Timah yang saat itu bernama perusahaan TTB, setiap minggu mengerahkan mobilnya untuk mengangkut pasir dan batu-batu. Bahkan ibu-ibu, di lokasi kolong Tambang 6 turut mencari batu-batu kerikil untuk menimbun rawa-rawa. Akhirnya, rawa-rawa sedalam 10 meter itu dapat ditimbun.

Selesai penimbunan dilakukanlah pembangunan  masjid dengan panjang dan lebar 30 x 30 meter dengan tinggi menara sekitar 18 meter. Namun, karena kekurangan dana, pembangunan masjid terpaksa dihentikan sementara. Susunan kepanitiaan pun berubah sebab ada yang mengundurkan diri. Namun, ketua panitia masih dipegang oleh H. Mas’ud Nur. Anggaran dana semula Rp1,2 juta berubah menjadi Rp 1,5 juta. Jumlah ini bertambah karena harus disesuaikan dengan harga bahan dan upah pekerja.

Membuat kubah dipercayakan kepada Firma Khu Khian Lan Pangkalpinang, pengerjaan pintu, kusen dan pengecatan oleh Biro Aksi. Sementara untuk menara yang awalnya 18 meter diubah menjadi 23 meter. Akhirnya pada tanggal 3 Juni 1961 sekitar pukul 09.00 WIB oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Bangka, Masjid Jamik Pangkalpinang diresmikan.

Ketua panitia, KH. Mas’ud Nur beberapa bulan setelah peresmian masjid, yang tepatnya tanggal 10 November 1961, pada hari Jumat menjelang Subuh yang saat itu bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November berpulang ke Rahmatullah dengan tenang pada usia 51 tahun.

Masjid dengan arsitektur unik dengan empat tiang penyanggah yang terdapat di dalam masjid semakin menambah keindahan masjid. Dengan halaman yang cukup luas, pada musim haji, biasanya masjid ini digunakan pejabat untuk melepas para jamaah haji. Keindahan masjid ini semakin lengkap dengan ditempatkannya satu bedug terbesar yang ada di Pangkalpinang. Bedug ini merupakan sumbangan Mantan Kapolda Babel, Brigjen Polisi Erwin TPL Tobing yang saat itu masih berpangkat Komisaris Besar Polisi.

Masjid Jamik Sunan Ampel Surabaya

Raden Achmad Rachmatulloh adalah seorang figur yang alim, bijak, berwibawa dan banyak mendapat simpati dari masyarakat. Sebagai seorang yang pandai dengan ilmu-limu agama, dia dipercaya Raja Majapahit untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam di Surabaya (dulu namanya Ampel Dento). Dia pun memimpin sebuah dakwah di Surabaya, namun karena terkendala tempat, Raden berinisiatif bersama masyarakat sekitar membangun Masjid Jamik Sunan Ampel Surabaya pada tahun 1421 M, untuk media dakwahnya.

Di tempat tersebutlah, Raden Achmad yang kini dikenal sebagai Sunan Ampel menghabiskan masa hidupanya di masjid itu. Hingga akhirnya pada tahun 1481 meninggal dunia, dan makamnya pun terletak di sebelah kanan depan masjid Ampel.

Masjid yang dikenal sebagai masjid terbesar nomor dua di Surabaya itu setiap menjelang dan selama bulan ramadhan selalu dipadati pengunjung. Di tempat ini konon, kabarnya menjadi tempat berkumpulnya para ulama dan Wali Allah dari berbagai daerah di tanah Jawa. Di tempat ini pula, para ulama membicarakan ajaran Islam sesuai petunjuk Allah. Sekaligus membahas metode penyebarannya di Pulau Jawa. Masjid Sunan Ampel yang dibangun dengan gaya arsitektur Jawa kuno dan nuansa Arab Islami yang sangat lekat ini, terasa kental bagi masyarakat setempat. Kemudian oleh warga setempat Masjid Sunan Ampel dibangun sedemikian rupa agar orang yang ingin melakukan sholat di masjid dapat merasa nyaman dan tenang. Hal ini tampak jelas dengan dibangunnya lima Gapuro (Pintu Gerbang) yang merupakan simbol dari Rukun Islam.

Dari arah selatan tepatnya di jalan Sasak terdapat Gapuro bernama Gapuro Munggah, dimana pejiarah akan menikmati suasana perkampungan yang mirip dengan pasar Seng di Masjidil Haram Makkah, yang menggambarkan seorang muslim wajib naik haji jika mampu.
Setelah melewati lorong perkampungan yang menjadi kawasan pertokoan yang menyediakan segala kebutuhan, mulai busana muslim, parfum, kurma dan berbagai assesoris orang yang sudah pernah melakukan ibadah haji lengkap tersedia di pasar Gubah Ampel Suci.
Kemudian pejiarah dapat melihat sebuah Gapuro Poso (Puasa) yang terletak di selatan Masjid Sunan Ampel. Kawasan Gapuro Poso ini memberikan suasana pada bulan puasa Ramadhan, yang artinya seorang muslim wajib berpuasa.

Selesai melewati Gapura, pejiarah akan memasuki halaman Masjid, disana akan tampak bangunan Masjid Induk yang megah dengan menaranya yang menjulang tinggi yang dibangun oleh Sunan Ampel, dan sampai sekarang masih tetap utuh baik menara maupun tiang penyangganya.
Setelah selesai, perjalanan dapat dilanjutkan, dan pejiarah akan menjumpai Gapuro Ngamal, yang artinya beramal atau shodaqoh. Shodaqoh itupun digunakan untuk pelestarian dan kebersihan kawasan Masjid dan Makam. Itupun menggambarkan Rukun Islam tentang wajib zakat.
Gapura lainnya yang letaknya tidak jauh dari tempat tersebut yakni Gapuro Madep, persis di sebelah barat Masjid Induk, sebagai simbol arah kiblat Masjid Agung Sunan Ampel, yang menggambarkan sholat menghadap kiblat. Gapura yang terakhir adalah Gapuro Paneksan (kesaksian), yang berarti kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah utusan Allah.

Hal lain yang dapat menjadi daya tarik pejiarah adalah, di lokasi tersebut terdapat sumur yang dulu dibuat oleh Sunan Ampel dan pengikutnya. Masyarakat sekitar meyakini, dengan meminum air sumur yang berada di belakang masjid akan membawa berkah tersendiri.
Selain sumur, bentuk peninggalan unik bernilai religi dan berarsitektur Islami lainnya adalah masjid yang masih berdiri kokoh.

Menurut sejarah, dalam masa penjajah, masjid yang berbahan kayu jati yang didatangkan dari beberapa wilayah di Jatim ini punya ‘karomah’ tersendiri. Bahkan, saat kolonial membombardir Surabaya dengan peluru dari berbagai arah, dan menimbulkan kerusakan di sana-sini. Masjid Ampel tidak terusik atau mengalami kerusakan sedikitpun.

Hingga kini, kawasan Masjid Ampel semakin terkenal. Tidak hanya dari dalam kota, pengunjung terus berdatangan dari berbagai penjuru tanah air dan mancanegara, karena tidak ingin menyia-nyiakan tempat bersejarah itu.

Guna melindungi dan melestarikan budaya dan sejarah bangsa, pemerintah Provinisi Jawa Timur menjadikannya masjid tersebut sebagau cagar budaya dan kawasan wisata religi, terus melalukan pemugaran.

Tidak ketinggalan, di lokasi ini banyak ditemukan pedagang kaki lima yang menjual berbagai aksesoris keperluan sholat, pernak-pernik, berbagai makanan khas Ampel ‘Kue Ebi’, hingga ditemukan makanan Arab atau yang disebut ‘gulai Arab’. Masjid Agung Sunan Ampel ini terletak di Jl. KH. Mas Mansyur Surabaya Utara.

Pos ini dipublikasikan di MASJID dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s