Apakah Haji Mabrur Itu ?


Apa itu Haji dan Umroh ?

Secara etimologis, haji berarti pergi menuju tempat yang diagungkan.
Secara terminologis berarti beribadah kepada Allah dengan melaksanakan manasik haji, yaitu perbuatan tertentu yang dilakukan pada waktu dan tempat tertentu dengan cara yang tertentu pula.

Definisi ini disepakati oleh seluruh mazhab.

Definisi Umroh
Umrah disebut Hajjul Ashghar (Haji Kecil), Kata ini berasal dari kata i`timaar (kata berimbuhan). Cara melaksanakannya; Orang yang hendak umrah melakukan ihram dari mikat, kemudian melaksanakan tawaf qudum, lalu sai dan tahallul dengan mencukur atau menggunting rambut.

Umrah

Wikipedia Indonesia

Umrah (bahasa Arab: عمرة) adalah salah satu kegiatan ibadah dalam agama Islam. Hampir mirip dengan ibadah haji, ibadah ini dilaksanakan dengan cara melakukan beberapa ritual ibadah di kota suci Mekkah, khususnya di Masjidil Haram.
Pada istilah teknis syari’ah, Umrah berarti melaksanakan Tawaf di Ka’bah dan Sa’i antara Shofa dan Marwah, setelah memakai ihram yang diambil dari Miqat. Sering disebut pula dengan haji kecil.
Perbedaan umrah dengan haji adalah pada waktu dan tempat. Umrah dapat dilaksanakan sewaktu-waktu (setiap hari, setiap bulan, setiap tahun) dan hanya di Mekkah, sedangkan haji hanya dapat dilaksanakan pada beberapa waktu antara tanggal 8 Dzulhijjah hingga 12 Dzulhijjah serta dilaksanakan sampai ke luar kota Mekkah.
Tipe Umrah

Terdapat beberapa tipe umrah, yang umum adalah umrah yang digabungkan dengan pelaksanaan haji seperti pada haji tamattu, adapula umrah yang tidak terkait dengan haji.
Umrah Mufradah
Umrah Tamattu’
Umrah Sunah

Tata Cara umrah

haji-definition

Haji Definition

Untuk tata cara pelaksanaan umrah, maka perlu diperhatikan hal-hal berikut ini :
Disunnahkan mandi besar (janabah) sebelum ihram untuk umrah.
Memakai pakaian ihram. Untuk lelaki 2 kain yang dijadikan sarung dan selendang, sedangkan untuk wanita memakai pakaian apa saja yang menutup aurat tanpa ada hiasannya dan tidak memakai cadar atau sarung tangan.
Niat umrah dalam hati dan mengucapkan Labbaika ‘umrotan atau Labbaikallahumma bi’umrotin. Kemudian bertalbiyah dengan dikeraskan suaranya bagi laki-laki dan cukup dengan suara yang didengar orang yang ada di sampingnya bagi wanita, yaitu mengucapkan Labbaikallahumma labbaik labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika laka.
Jika sudah sampai kota Makkah, disunnahkan mandi terlebih dahulu sebelum memasukinya.
Sesampai di ka’bah, talbiyah berhenti sebelum thawaf. Kemudian menuju hajar aswad sambil menyentuhnya dengan tangan kanan dan menciumnya jika mampu dan mengucapkan Bismillahi wallahu akbar. Jika tidak bisa menyentuh dan menciumya, maka cukup memberi isyarat dan berkata Allahu akbar.
Thawaf sebanyak 7 kali putaran. 3 putaran pertama jalan cepat dan sisanya jalan biasa. Thowaf diawali dan diakhiri di hajar aswad dan ka’bah dijadikan berada di sebelah kiri.
Shalat 2 raka’at di belakang maqam Ibrahim jika bisa atau di tempat lainnya di masjidil haram dengan membaca surah Al-Kafirun pada raka’at pertama dan Al-Ikhlas pada raka’at kedua.
Sa’i dengan naik ke bukit Shofa dan menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangan dan mengucapkan Innash shofa wal marwata min sya’aairillah. Abda’u bima bada’allahu bihi (Aku memulai dengan apa yang Allah memulainya). Kemudian bertakbir 3 kali tanpa memberi isyarat dan mengucapkan Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu. Lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir. Laa ilaha illallahu wahdahu anjaza wa’dahu wa shodaqo ‘abdahu wa hazamal ahzaaba wahdahu 3x. Kemudian berdoa sekehendaknya.
Amalan pada poin 8 diulangi setiap putaran di sisi bukit Shofa dan Marwah disertai dengan doa.

haji-johnny-quest

Haji Dan Umrah

Sa’i dilakukan sebanyak 7 kali dengan hitungan berangkat satu kali dan kembalinya dihitung satu kali, diawali di bukit Shofa dan diakhiri di bukit Marwah.
Mencukur seluruh atau sebagian rambut kepala bagi lelaki dan memotongnya sebatas ujung jari bagi wanita.
Dengan demikian selesai sudah amalan umrah
Bagaimana Dengan haji Saudara ?

Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan seasungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS Al Baqarah (2): 197).

SALAH satu bentuk kasih sayang dan karunia Allah SWT terhadap para hamba-Nya adalah dijadikan bagi mereka musim-musim kebaikan guna meningkatkan kesempurnaan kemanusiaannya serta meraih derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Setelah Ramadhan, kita memasuki musim kebaikan yang lain, yaitu musim haji. Di dalam musim ini ada sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang merupakan hari-hari sangat mulia sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:
“Tidak ada hari di mana amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari (Dzhulhijjah) ini. Lalu para sahabat bertanya, Ya Rasulullah, tidak tertandingi oleh jihad fi sabilillah sekalipun? Beliau menjawab, (Ya), tidak tertandingi oleh jihad fi sabilillah sekalipun, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa raga dan hartanya, lalu ia tidak kembali dengan apa pun (yakni mati syahid). HR Bukhari.

Orang yang dipilih Allah swt dari ratusan juta kaum muslimin untuk menunaikan ibadah haji adalah orang yang sangat beruntung. Beragam keistimewaan dan keutamaan yang berpuncak pada surga yang menantinya jika ia meraih haji mabrur. Namun, ujian dan cobaan yang mengotori kemabruran hajinya juga tidak sedikit. Dari sekian banyak ujian, ada 3 (tiga) hal yang disebut dalam ayat di atas yang perlu senantiasa diwaspadai oleh jama ah haji, yaitu rafats, fusuq dan jidal.

ibadah-haji

Ibadah Haji

Sesungguhnya kemunkaran dan hal-hal negatif selama musim haji di tanah suci cukup banyak. Sehingga tidak benar, persepsi sebagian orang bahwa Tanah Suci sepi dari kemaksiatan dan kemunkaran. Ketika Al Quran hanya menyebut tiga hal negatif tersebut, hal ini memberikan pemahaman kepada kita bahwasanya peluang untuk melakukan ketiga perbuatan negatif itu dalam muktamar yang dihadiri jutaan kaum muslimin sedunia dengan beragam warna kulit, bentuk fisik, suku, ras, bahasa dan adat amatlah besar. Sehingga tidak berlebihan jika ada yang berkomentar, bahwa setiap jamaah haji berpotensi untuk berbuat rafats, fusuq dan jidal, baik pra haji, di tengah penunaian berbagai manasik (ritual) haji maupun pasca haji, menjelang kepulangannya ke tanah air misalnya.

Ibnu Jarir dalam kitab Tafsirnya (II/273-279) secara panjang lebar menghadirkan penafsiran para ulama tentang rafats yang dapat disimpulkan, bahwa rafats adalah jima (bersetubuh) dan permulaan-permulaannya seperti bercumbu serta perkataan yang menimbulkan birahi. Lalu fusuq adalah semua bentuk maksiat dan larangan-larangan bagi orang yang berihram. Sedangkan jidal adalah berbantah-bantahan, saling panggil memanggil dengan gelar yang buruk dan debat kusir seperti saling mengklaim bahwa apa yang dilakukan paling baik/benar dan semua perbuatan yang memicu konflik, kedengkian dan permusuhan.

Ketiga hal ini diberi penekanan khusus untuk dijauhi, karena Allah SWT menginginkan jamaah haji untuk melepaskan diri dari segala gemerlap dunia dan tipu dayanya, serta mensucikan diri dari segala dosa dan keburukan. Sehingga terwujudlah tujuan yang diinginkan dari ibadah haji yaitu Tahdzib An Nafs (pensucian jiwa) dan mengarahkannya secara total untuk beribadah kepada Allah SWT semata. Dan hanya jamaah haji yang mampu menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan negatif tersebutlah yang diibaratkan Nabi SAW seperti bayi yang baru lahir ke dunia tanpa dosa.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji, tidak rafats dan berbuat fasik, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari di saat ia dilahirkan ibunya.” (HR Bukhari dan Muslim) Setelah melarang berbuat keburukan, Allah SWT membangkitkan semangat mereka untuk melakukan kebaikan seraya berfirman, “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” Dilihat dan diketahui Allah merupakan penghargaan dan balasan dari Allah sebelum balasan yang sesungguhnya. Sehingga memotivasi seorang mukmin untuk semakin banyak memproduksi berbagai macam kebaikan.

aka Disini akan menemukan Definisi yang Hampir sempurna yaitu :

1. Apabila Seseorang ingin menunaikan Haji maka tidak lepas dari kemampuan yg dimiliki, baik Fisik, Batin dan Materi ( tdk ada hutang piutang = sekecil apapun itu bentuknya ) jk ada Hutang maka gugur dia sebagai Haji mabrur ( karena ada Hutang apalagi bersifat sangat memaksakan kehendak).karena Hutang maka dia sesungguhnya belum dapat dikatakan MAMPU.

2. Niat hanya karena ALLAH disebabkan ibadah ini merupakan Ibadah Hamba kepada Tuhanya bukan hal-hal yg lain menyertainya,( bermacam-macam Niat baik yang kasat mata/tersurat dan yang tersirat ( tersembunyi )

A}. banyak yg ingin Ibadah Haji bercita2 sebelum Ajal menjemput ( niat yg tidak dibenarkan krn takut lebih awal kematiannya dari pd Hajinya).

B}. Menunaikan Ibadah Haji dg menggunakan fasilitas negara atau Aji Mumpung serta mendapat tugas berkunjung ke negara sekaligus menunaikan Ibadah Haji ( niat yg tidak dibenarkan disebabkan Bukan Niat yang diutamakan).

C}. Menunaikan Haji sebelum keberangkatan mengundang tetangga, kerabat serta teman atau siapa saja yg ingin di Undang ( niat yg tidak dibenarkan Jatuh Hukum Ria Disini ),

D}. Menjemput kedatangan Haji dengan iring2an pawai serta menghias Mobil dgn Sarung atau sejenis dan membuat acara serta Baliho secara tdk langsung menunjukkan kedatangannya ( jg tidak dibenarkan karena jatuh hukum Zholim dan Ria disini ) Makna Zhloim : Meletakkan sesuatu bukan Pada tempatnya, Kemudian Mengunakan mobil dengan iring-iringan sehinga menambah kemacetan jalan dan menganggu kepentingan Hamba Yang lain yang mungkin jauh lebih utama dan lebih besar dari pada kepentingan Para penjemput Haji.

E}. Berhaji karena kelebihan materi ( uang ) sehingga selalu ingin pergi haji berulang2 ( ini juga kurang dibenarkan apabila tidak memperhatikan tetangganya akan menyebabkan mengugurkan Mabrur itu sendiri

F}. Karena Berhaji ikut2an akan cerita dan nikmatnya berhaji ( juga tidak dibenarkan ) dan masih banyak lagi Niat yg tidak dibenarkan.

sekarang MA HUWA MABRUR ? ( apa itu Mabrur ) makna yang Hampir sempurna ialah :

1. Apabila Seseorang berangkat semata2 karena Allah karena Allah pulang karena Allah. Maka jatuhlah Hukum Mabrur ( Insya Allah )

2. Apabila seseorang berangkat bukan karena ada kepentingan dan tidak hasil dari Hutang atau tidak menjual harta bendanya sehingga Habis tersisa, maka jatuhlah dia Haji mabrur ( Insya Allah )

3. Apabila kepulangannya dari ibadah Haji tidak lagi melakukan2 maksiat yg pernah dilakukan sebelum berhaji, maka jatuh hukum Mabrur.

4. Apabila kepulangannya dari Ibadah Haji dia tidak mengharap akan panggilan2 Haji ( Pak Haji / Bu Haji ) karena Ibadah ini Antara Tuhan dan Hambanya ( hanya Allah yang memberikan tittle terbaik kepada para hamba-Nya ). maka jatuh hukum Mabrur.

5. Apabila kepulangan dari Ibadah Haji tidak lagi melakukan dan berbuat maksiat serta berkata2 Kotor dan hal-hal yang tidak bermanfaat yang mana pernah dia lakukan sebelum ber ibadah haji. Maka Jatuh Hukum Mabrur ( Insya Allah )

6. Apabila kepulangannya dari Ibadah haji dia sering beribadah ke Mesjid serta melaksanakan Sholat 5 waktu dan sunnahnya, yang mana dia jarang bahkan tidak melakukan sebelum berangkat ibadah Haji. Maka Jatuhlah Hukum Mabrur ( Insya Allah ).

Kunci menjaga haji mabrur

Prof Dr H Muslich Shabir MA, Dosen IAIN Walisongo Semarang, mengatakan haji mabrur merupakan haji yang dilaksanakan dengan niat karena Allah semata, dengan biaya yang halal dan mengerjakan segala ketentuan berhaji dengan sempurna. Haji itu tidak dicampuri pula dengan perbuatan dosa, sunyi dari riya’ dan tidak dinodai dengan kata-kata kotor (rafats), perbuatan yang melanggar aturan (fusuq) dan tidak berbantah-bantahan (jidal).

Kebalikan haji mabrur adalah haji mardud, yakni haji yang dibiayai dengan dana tidak halal dan yang biasa dimakan juga dari hasil yang haram. Ketika orang yang seperti itu mengucapkan talbiyah, Allah menjawabnya: ”Tidak ada labbaik dan tidak ada keberuntungan atasmu karena apa yang kamu makan dan apa yang kamu pakai itu haram sedangkan hajimu mardud (ditolak)”.

Haji mabrur merupakan hasil maksimal yang didambakan oleh setiap jama’ah haji karena haji yang seperti itu menjamin pelakunya untuk masuk surga. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dinyatakan bahwa haji mabrur itu tidak ada balasan lain kecuali surga, dan kemabruran haji itu ditandai dengan memberikan makan dan menyebarkan kedamaian.

Namun dalam kenyataannya, untuk memastikan apakah haji seseorang itu mabrur, sangatlah sulit. Belum tentu jamaah haji yang sudah melaksanakan rukun-rukun haji bahkan dengan sempurna, hajinya itu akan mabrur. Haji bukan hanya berkaitan dengan penyempurnaan rukun-rukunnya saja. Kemabruran haji juga dinilai dari pra pelaksanaan, seperti niat melaksanakan ibadah haji, serta lebih penting lagi paska pelaksanaan ibadah haji. Oleh karena itu, melestarikan kemabruran ibadah haji menjadi hal yang sangat penting yang mesti diperhatikan jamaah haji setelah kepulangannya dari Tanah Suci. Secara umum, kemabruran ibadah haji seseorang ditunjukkan melalui perubahan sikap, mental, dan perilaku seseorang hingga menjadi lebih baik dari sebelum melaksanakan ibadah haji dan meningkatnya kualitas ibadah. Seseorang haji yang kembali dari tanah haram, dia akan memulai hidupnya dengan lembaran baru, menapak jalan yang kokoh dalam beribadah, dalam pergaulan dan dalam berakhlak. Maka dia menjadi orang yang tampil beda dengan sikap jujur dalam kerjasama, banyak melakukan kebaikan, mencurahkan amar makruf dan hatinya bersih. Setiap tahunnya, jutaan orang diasah kembali kesadaran dan ingatannya akan kebesaran dan keagungan Sang Khaliq. Mestinya, setiap tahun, jutaan orang di dunia ini menjadi lebih baik perangai sosial, akhlak, dan moralitasnya. Namun kenyataannya di lapangan berkata lain. Kita patut prihatin jika melihat banyak muslim bergelar haji yang tidak menjadi lebih baik dari sebelumnya, seperti para artis, pejabat, ataupun politisi.

Oleh karena itu, jawaban dari pertanyaan, ”apa yang harus dilakukan seseorang sekembalinya dari ibadah haji?” adalah menjaga dan memelihara kemabruran haji dengan mengupayakan peningkatan kualitas keberagamaan, dalam tataran iman, ibadah, amal saleh, maupun akhlak. Kemabruran haji yang telah diperoleh oleh setiap jamaah harus selalu dijaga supaya ia benar-benar bisa mencapai husnul khatimah ketika sakaratul maut. Dengan demikian, dia akan selalu meninggalkan akhlak yang tercela. Ditinggalkannya semua perbuatan yang menyimpang dari hukum Allah maupun hukum negara. Dia jauhi semua yang haram bahkan yang syubhat sekali pun.

Apabila dia seorang pedagang maka dia akan berdagang secara jujur. Apabila dia seorang pejabat, maka dia akan menjalankan amanah itu dengan sebaik-baiknya dan menjauhi perbuatan korupsi sekecil apa pun; begitu seterusnya. Untuk menjaga kemabruran haji dalam hal ubudiyah, dapat diaktualisasikan melalui beberapa tahapan, baik ubudiyah yang bersifat mahdhoh (ibadah murni) atau ghairu mahdhoh (ibadah yang tidak murni). Indikasi kemabruran haji dalam hal ubudiyah yaitu adanya peningkatan ibadah dan nampak pada kepribadian seseorang yang berhaji. Bila selama di tanah suci begitu semangat melaksanakan shalat jamaah di masjid, bahkan hampir tidak ada shalat yang tidak dilaksanakan dengan berjamaah, maka sekembalinya dari tanah suci, kebiasaan yang baik itu perlu dilanjutkan. Selain itu, shalat wajib lima waktu akan selalu dilaksanakan tepat pada waktunya dan diusahakan dapat shalat berjamaah di masjid, bahkan ditambah dengan shalat-shalat sunah.

Ringkasnya, orang yang menyandang predikat haji mabrur akan memulai hidupnya dengan lembaran baru sepulangnya dari Tanah Suci. Sehingga, akan sangat terasa manfaatnya bagi keluarga dan masyarakat. Keluarga akan menjadi lebih damai, teduh, dan bahagia. Masyarakat secara keseluruhan pun akan menjadi masyarakat madani yang selalu sadar terhadap kebesaran Allah SWT.

Pos ini dipublikasikan di TEORI DAKWAH dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Apakah Haji Mabrur Itu ?

  1. zakarial ansar jabar berkata:

    jangan hanya cakap nak dapat haji mabrur, berusahalah dengan ikhlas hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s