Merayakan Tahun Baru


Merayakan Tahun Baru Bagi Umat Islam

Menjelang merayakan tahun baru 2013 banyak sekali perubahan dari segi ekonomi, politik sampai agama ikut dalam pergantian tahun. Contoh unik ketika menjelang tahun baru ada seseorang bahkan kelompok tertentu yang menyakini di akhir tahun ini 12-12-2012 akan terjadi kiamat, ada yang bikin bunker agar terhindar dari bahaya kiamat dan itu di percaya, di tahun-tahun sebelumnya juga begitu banyak orang yang menyakini akan terjadi kiamat.

merayakan-tahun-baru

Hukum Merayakan Tahun Baru

Atas dasar apa mereke menyakini datangnya kiamat ? aduh sangat premtur sekali dan dangkalnya keyakinan dan jalan pikiran mereka, karena kenyataan dan dalilnya tidak begitu. Kok pembicaraan nglantur ke situ,,, Kita kembali pada harga sembako, beras,minyak goreng, lombok, gula, susu, dan lain-lain ikut dalam perayaan tahun he,,,he.. biasanya harga ikan lele 11.000 sekarang aja udah 15.000 ada yang jual 16.0000 ini baru natal belum tahun baru.  Ok.. sebelum kita masuk tahun baru ada baiknya kita reviews atau intropekasi diri kita masing-masing dulu, kata Nabi “Koreksilah diri kalian sendiri sebelum mengkoreksi orang lain” jangan sampai seperti pepatah gajah di depan mata tak tak tampak, maksudnya dengan kekurangan orang lain kita sangat paham tetapi dengan kekurangan diri sendiri tidak tahu sama sekali. Selama satu tahun kemaren apa saja yang telah kita lakukan dan apa saja yang belum kita lakukan. Mungkin itu termasuk sebagai motivasi agar di tahun baru ini bisa lebih semangat meraih keberhasilan.

Makna Merayakan Tahun Baru Menurut Islam

Secara umum islam dalam memaknai merayakan tahun baru adalah “tahun yang akan datang akan lebih jelek lagi dari pada tahun sebelumnya”, dari dalil tersebut sudah banyak kenyataan yang bisa kita ketahui contoh saja dari segi ibadah orang-orang jaman dulu dengan sekarang sangat berbeda jauh, kita bisa tengok contoh sahabat nabi yang terkena panah beliau tidak mau di cabut panahnya sehingga beliau ketika melaksanakan sholat, maksudnya ketika sahabat Sa’ad melaksanakan sholat beliau lebih khusuk dan tidak ada yang paling di perhatikan kecuali Allah. Sebagaimana prinsip ibadah adalah : Ibadahlah seakan-akan kita melihat Allah atau seakan-akan kita di perhatikan oleh Allah SWT.  Itulah salah satu contoh kekhusu’an ibadah para sahabat, sekarang kita bandingkan dengan ibadah kita, sepertinya baina samawaat wal-ardh , sangat jauh sekali perbedaan Ibadah antara kita dengan para ulama salaf. Belum lagi kerusakan, kemaksiatan yang merajalela di sekitar kita sungguh sangat berbahaya, dalam sebuah bait sair di ungkapkan seperti memegang bara api.

Bagaimana Kita Merayakan Tahun Baru

Merayakan tahun baru merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun.

Ini adalah bukti yang menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru sama sekali tidak berasal dari budaya kaum muslimin. Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis Romawi.

 Acara ini terus dirayakan oleh masyarakt modern dewasa ini, walaupun mereka tidak mengetahui spirit ibadah pagan adalah latar belakang diadakannya acara ini. Mereka menyemarakkan hari ini dengan berbagai macam permainan, menikmati indahnya langit dengan semarak cahaya kembang api, dan sebagaimana.

Bukti-bukti Islam melarang merayakan tahun baru :

“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (Hadis  Shahih riwayat Abu Daud)

Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan,

“Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.”

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..” (QS. Al-Mumtahanah: 1)

Jadi bagaimana apakah kita sepakat untuk merayakan tahun baru, jawabanya kembali kepada kefahaman kita masing-masing.

Pos ini dipublikasikan di MASJID dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s