Aqidah Islamiyah


PEMBAHASAN AQIDAH ISLAM

sumber-aqidah-islam

sumber aqidah islam

Pembahasan aqidah islam meliputi :

1. Ar- Rububiyyah :

Berkaitan : Mentauhidkan Allah sebagai Pencipta, Pemilik dan Penguasa

2. Al- Uluhiyyah :

 Mentauhidkan Allah yang bersifat dengan sifat kesempurnaan. Hanya Allah wajib disembah, ditaati peraturannya, tempat berdoa dan berharap

3. An- Nubuwwah :

Kenabian Rasulullah s.a.w. yang membawa ajaran Allah utk disampaikan kepada umat manusia

4. As- Samiyyah :

Perkara-perkara ghaib yang tidak dapat dicapai oleh panca indera dan tidak wajib disembah, ditaati peraturannya, tempat berdoa dan berharap dapat difikir oleh akal manusia , diketahui melalui al-Quran & hadis rasulullah seperti kaimat, dosa, pahala, melalui al-Quran & hadis rasulullah seperti kaiamt, dosa, pahala,syurga dan neraka

Sumber Aqidah Islam

Jika kita menelaah tulisan para ulama dalam menjelaskan sumber aqidah islam, maka akan didapati 2 sumber pengambilan dalil penting :

1.      Dalil asas dan inti yang mencakup Al-Qur an, As Sunnah dan Ijma’ para ulama

2.      Dalil penyempurnaan yang mencakup akal sehat manusia dan fitrah kehidupan yang telah diberikan oleh Allah azza wa jalla

a.      Al-Qur an Sebagai Sumber Aqidah

Al-Qur an adalah firman Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW melalui perantara Jibril. Di dalamnya, Allah telah menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh hamba-Nya sebagai bekal kehidupan di dunia maupun di akhirat. Ia merupakan petunjuk bagi orang-orang yang diberi petunjuk, pedoman hidup bagi orang yang beriman, dan obat bagi jiwa-jiwa yang terluka. Keagungan lainnya adalah tidak akan pernah ditemui kekurangan dan celaan di dalam Al-Qur an, sebagaimana dalam firman-Nya :

“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Q.S. Al An’am:115)

b.      As Sunnah: Sumber Kedua

Seperti halnya Al-Qur an, As Sunnah adalah satu jenis wahyu yang datang dari Allah subhanahu wata’ala walaupun lafadznya bukan dari Allah tetapi maknanya datang dari-Nya. Hal ini dapat diketahui dari firman Allah

 “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (Q.S. An-Najm: 3-4)

Allah berfirman :

 “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (Q.S. Al-Jumu’ah: 2)

c.       Ijma’ Para Ulama

Ijma’ dalam pengertian bahasa memiliki dua arti. Pertama, berupaya (tekad) terhadap sesuatu.

Ijma’ adalah sumber aqidah yang berasal dari kesepakatan para mujtahid umat Muhammad SAW setelah beliau wafat, tentang urusan pada suatu masa. Mereka bukanlah orang yang sekedar tahu tentang masalah ilmu tetapi juga memahami dan mengamalkan ilmu. Berkaitan dengan Ijma’, Allah SWT berfirman :

 “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (Q.S An Nisaa:115)

Imam Syafi’i menyebutkan bahwa ayat ini merupakan dalil pembolehan disyariatkannya ijma’, yaitu diambil dari kalimat “jalannya orang-orang yang beriman” yang berarti ijma’. Beliau juga menambahkan bahwa dalil ini adalah dalil syar’i yang wajib untuk diikuti karena Allah menyebutkannya secara bersamaan dengan larangan menyelisihi Rasul.

Di dalam pengambilan ijma’ terdapat juga beberapa kaidah-kaidah penting yang tidak boleh ditinggalkan. Ijma’ dalam masalah aqidah harus bersandarkan kepada dalil dari Al-Qur an dan Sunnah yang shahih karena perkara aqidah adalah perkara tauqifiyah yang tidak diketahui kecuali dengan jalan wahyu. Sedangkan fungsi ijma’ adalah menguatkan Al Quran dan Sunnah serta menolak kemungkinan terjadinya kesalahan dalam dalil yang dzoni sehingga menjadi qotha’i.

d.      Qiyas

Qiyas menurut ulama ushul adalah menerangkan sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Al Qur’an dan hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. Mereka juga membuat definisi lain, Qiyas adalah menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash hukumnya karena adanya persamaan illat hukum. Dengan demikian qiyas itu penerapan hukum analogi terhadap hukum sesuatu yang serupa karena prinsip persamaan illat akan melahirkan hukum yang sama pula.

Umpamanya hukum meminum khamar, nash hukumnya telah dijelaskan dalam Al Qur’an yaitu hukumnya haram. Sebagaimana firman Allah Swt:

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[6], adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Haramnya meminum khamr berdasar illat hukumnya adalah memabukan. Maka setiap minuman yang terdapat di dalamnya illat sama dengan khamar dalam hukumnya maka minuman tersebut adalah haram.

e.       Akal Sehat Manusia

Selain ketiga sumber aqidah di atas, akal juga menjadi sumber hukum aqidah dalam Islam. Hal ini merupakan bukti bahwa Islam sangat memuliakan akal serta memberikan haknya sesuai dengan kedudukannya. Termasuk pemuliaan terhadap akal juga bahwa Islam memberikan batasan dan petunjuk kepada akal agar tidak terjebak ke dalam pemahaman-pemahaman yang tidak benar. Hal ini sesuai dengan sifat akal yang memiliki keterbatasan dalam memahami suatu ilmu atau peristiwa.

Keistimewaan Aqidah Islamiyah

Keistimewaan Aqidah islam tersebut, antara lain sebagai berikut:

1.      Sumber pengambilannya adalah murni

Hal itu karena aqidah islam berpegang teguh kepada Al-Quran, As-Sunnah, dan Ijma’. Jadi Aqidah Islam diambil dari sumber yang jernih dan jauh dari kekeruhan hawa nafsu dan syahwat. Keistimewaan ini tidak dimiliki oleh berbagai mazhab, dan ideology lainnya diluar Islam.

2.      Berdiri diatas pondasi penyerahan diri kepada Allah dan Rasul-Nya

Hal itu karena aqidah Islam bersifat gaib, dan yang gaib tersebut bertumpu pada penyerahan diri. Kaki Islam tidak dapat berdiri tegak, melainkan diatas pondasi penyerahan diri dan kepasrahan. Jadi, Iman kepada ynag ghaib merupakan salah satu sifat terpenting bagi orang-orang mukmin yang dipuji oleh Allah.

Sebab akal tidak mampu memahami yang ghaib dan tidak mampu secara mandiri mengetahui syariat secara rinci, karena manusia yang terbatas penglihatannya, dan kekuatan yang terbatas, akalnya pun terbatas sehingga tidak ada pilihan lain, selain beriman kepada yang ghaib dan berserah diri kepada Allah SWT.

3.      Sesuai dengan fitrah yang lurus dan akal yang sehat

Sesuai dengan fitrah yang sehat dan selaras dengan akal yang murni. Akal murni yang bebas dari pengaruh shahway dan syubhat tidak akan bertentangan dengan Nash yang shahih dan bebas dari cacat.

4.      Kokoh, stabil dan kekal

Aqidah islam adalah akidah yang kokoh, stabil dan kekal. Akidah islam sangat kokoh ketika menghadapi pukulan bertubi-tubi ang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam.

5.      Mengangkat derajat para penganutnya

Barang siapa yang menganut aqidah Islam lalu pengetahuan nya tentang aqidah itu meningkat, pengalamannya terhadap konsekuensi aqidah pun meningkat, dan aktifitasnya untuk mengajak manusia kedalamnya juga meningkat maka Allah akan mengangkat derajatnya, menaikkan pamornya, dan menybarluaskan kemuliannya ditengah khalayak, baik dalam skala individu maupun kelompok.

Keutamaan sejati yang tidak tertandingi oleh keutamaan manapun dan kemuliaan tertinggi yang tidak bisa dicapai oleh kemuliaan manapun, sesungguhnya wujudnya adalah upaya mencapai kesempurnaan dan komitmen untuk menghiasi diri dengan keutamaan dan membersihkan diri dari kenistaan.

Kemuliaan seperti itulah yang bisa mengangkat hati, menyucikan jiwa, menjernihkan pandangan mata dan mengantarkan pemiliknya kepada tujuan tertinggi dan terhormat. Kemuliaan itulah yang dapat mengangkat umat kepuncak kejaan dan kemuliaan sehingga kehidupan yang baik bisa diraih di dunia dan kebahagiaan di akhirat yang kekal bisa dirasakan di akhirat.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di DAKWAH ISLAM dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s