Pengertian Ijarah Dalam Islam


Pengertian Ijarah

Teman-teman info dakwah islam lama tidak update artikel, pada kesempatan ini kita akan membicarakan tentang Ijarah. Ijarah menurut bahasa arab adalah ”Ajaro” artinya adalah upah atau pahala/ganjaran.

pengertian-jenis-ijarah

pengertian jenis ijarah

Ijarah menurut isitlah dalam ilmu syariah perbankan dimaknai dengan sewa menyewa dan upah. Idris Ahmad mengatakan bahwa ijarah adalah upah mengupah, sedangkan Kamaluddin A Marzuki menjelaskan tentang makna ijarah sebagai sewa menyewa.
Menurut istilah syara’, para ulama mempunyai definisi berbeda, diantaranya adalah :
1. Menurut Ulama Hanafiyah, Ijarah ialah : ”akad untuk membolehkan pemilikan manfaat yang diketahui dan disengaja dari suatu zat yang disewa dengan imbalan.
2. Menurut Ulama Malikiyah, Ijarah ialah : ”Nama bagi akad-akad untuk kemanfaatan yang bersifat manusiawi dan untuk sebagian yang dapat dipindahkan.
3. Menurut Saikh Syihab Al-Din dan Saikh Umairah bahwa yang dimaksud dengan Ijarah ialah : ”akad atas manfaat yang diketahui dan disengaja untuk memberikan dan membolehkan dengan imbalan yang diketahui ketika itu.
4. Menurut Hasbi Ash-Shiddieqie, Ijarah ialah : ”akad yang objeknya ialah penukaran manfaat untuk masa tertentu, yaitu pemilikan manfaat dengan imbalan, sama dengan menjual manfaat.
Berdasarkan definisi diatas, dapat dipahami bahwa ijarah adalah tukar menukar manfaat sesuatu dengan imbalan, dalam bahasa indonesia ijarah diterjemahkan dengan sewa menyewa dan upah mengupah. Sewa menyewa merupakan penjualan manfaat suatu barang, sedangkan upah mengupah adalah penjaulan manfaat tenaga atau kekuatan seseorang.

Syarat  Sah Ijarah

Keabsahan ijarah sangat berkaitan dengan ‘aqid (orang yang akad), ma’qud ‘alaih (barang yang menjadi objek akad), ujrah(upah), dan zat akad (nafs al-‘aqad), yaitu:
a. Adanya keridoan dari kedua pihak yang akad

Syarat ini didasarkan pada firman Allah SWT. :

Artinya : “hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakai harta sesamamu dengan jalan yang batal, kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan suka ama suka.” (QS. An-Nisa’ : 29)
Ijarah dapat dikategorikan jual-beli seebab mengandung unsure pertukaran harta. Syarat ini berkaitan dengan ‘qid.
b.  Ma’qud ‘alaih bermanfaat dengan jelas
Adanya kejelasan pada ma;qudalaih (barang) menghilangkan diantara ‘aqid. Diantara cara untuk mengetahui ma’qud ‘alaih (barang) adalah dengan menjelaskan manfaatnya, pembatasan waktu, atau menjelaskan jenis pekerjaan jika ijarah atas pekerjaan atau jasa seseorang. (Syafi’I, 2001: 55)

1.  Penjelasan manfaat

Penjelasan di lakukan agar benda yang di sewakan bener-benar jelas. Tidak sah mengatakan, “saya sewakan sala satu dari rumah ini.”

2.  Penjelasan waktu

Jumhur ulama tidak memberikan batasan maksimal atau minimal. Jadi, dibolehan selamanya dengan syarat asalnya masih tetap ada sebab tidak ada dalil yang mengharuskan untuk membatasinya.
Ulama hanafiyah yidak mensyaratkan untuk penetapan waktu akad, sedangkan ulama syafi’iyah mensyaratkannya sebab bila tak dibatasi hal itu dapat menyababkan ketidaktahuan waktu yang wajib dipenuhi.

3. Penjelasan jenis pekerjaan

4. Penjelasan waktu kerja
c. Ma’qud ‘Alaih (barang) harus dapat memenuhi secara syara’
d. Kemanfaatan benda dibolehkan menurut syara’
e. Tidak menyewa untuk pekerjaan yang diwajibkan kepadanya
f.  Tidak mengambil manfaat bagi diri orang yang disewa
g. Manfaat ma’qud alaih seesuai dengan keadaan yang umum

4. Syarat barang sewaan

Diantara syarat barang sewaan adalah dapat dipegang atau dikuasai. Hal ini didasarkan pada hadist Rasulullah yang melarang menjual barang yang tidak dapat dipegang atau dikuasai.

5. Syarat Ujrah (upah)

Para ulama telah menetapkan syarat upah, yaitu :
1. Berupa harta tetap yang dapat diketahui
2. Tidak boleh sejenis dengan barang manfaat dari ijarah

6.  Syarat yang kembali pada rukun akad

Akad disyaratkan harus terhindar dari syarat yang tidak diperlukan dalam akad atau syarat yang merusak akad

7.  Syarat kelaziman
Syarat kelaziman ijarah terdiri atas dua hal yaitu :
a.   Barang sewaan terhindar dari cacat
b.  Tidak ada udzur yang dapat membatalkan akad

Dasar Hukum Ijarah dalam Al-Qur’an

Berikut ini kumpulan dasar hukum ijarah dalam alquran, hadist maupun pandangan ilmu fiqh. QS. al-Zukhruf ayat 32:
“Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
QS. al-Baqarah ayat 233:
“…Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kepada Allah; dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
QS. al-Qashash ayat 26:
“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, ‘Hai ayahku! Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’”

2. Dasar Hukum Ijarah dalam al-Hadis
Hadis riwayat Ibn Majah dari Ibnu Umar, bahwa Nabi bersabda:
“Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering.”
Hadis riwayat ‘Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri, Nabi s.a.w. bersabda:
“Barang siapa mempekerjakan pekerja, beritahukanlah upahnya.”
Hadis riwayat Abu Daud dari Sa`d Ibn Abi Waqqash, ia berkata:
“Kami pernah menyewankan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya; maka, Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan
emas atau perak.”
Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf:
“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”

3. Ijma ulama tentang kebolehan melakukan akad sewa menyewa.

4. Kaidah fiqh:
“Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
“Menghindarkan mafsadat (kerusakan, bahaya) harus didahulukan atas mendatangkan kemaslahatan.”

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di TEORI DAKWAH dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s