Bersuci Dalam Islam


Tuntunan Bersuci Dalam Islam

Beberapa pendapat tentang bersuci dalam islam di antaranya adalah pendapat Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menerangkan makna thaharah secara bahasa sebagai kebersihan atau kesucian dari segala kotoran. Sedangkan menurut istilah fuqaha thaharah pengertiannya ialah hilangnya hadats atau najis atau yang semakna dengan keduanya.

bersuci-dalam-islam

bersuci dalam islam

Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Saalim hafidzhahullah menerangkan lebih lanjut makna thaharah. Beliau menjelaskan pengertiannya secara bahasa ialah kebersihan dari segala kotoran baik secara lahir (yaitu berbagai najis termasuk air kencing dan selainnya) maupun batin. Yaitu seperti keaiban-keaiban dan berbagai kemaksiatan. Adapun secara syar’i pengertiannya ialah hilangnya perkara yang menghalangi sahnya shalat, seperti hadats atau najis. Sedangkan menghilangkan hadats atau najis itu dengan air atau debu.

Hukum Thaharah

Mensucikan diri dari najis dan menghilangkannya adalah wajib, yakni selama dia sadar dan memiliki kemampuan. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah ta’ala:

وثيابك فطهر

“Dan bersihkanlah pakaianmu..” [Al-Muddattsir: 4]

أن طهرا بيتي للطائفين والعاكفين والركع السجود

“Bersihkanlah rumah-Ku (ka’bah) untuk orang-orang yang thawaf, orang-orang yang i’tikaf, orang-orang yang ruku dan sujud.” [Al-Baqarah: 125]

Adapun mensucikan diri dari najis sebelum menunaikan shalat adalah sebagai ketentuan yang diwajibkan secara terus-menerus. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

“Shalat itu tidak akan diterima jika tanpa bersuci..” [HR. Muslim 224 - Shahih Fiqhus Sunnah 1/70]

Cara Bersuci Dalam Islam

Cara bersuci dalam islam, yakni dengan menggunakan air yang diratakan pada seluruh badan dan disertai niat. Ketentuan ini berlaku pada hadats akbar (besar). Sedangkan dalam hadats asghar (kecil) menghilangkannya cukup dengan membasuh anggota-anggota wudhu’. Namun jika tidak menemukan air dan kesulitan untuk mendapatkannya, maka hadats tersebut bisa dihilangkan dengan sesuatu yang dapat menggantikan kedudukan air seperti debu dengan sifat tertentu [Mulakhashul Fiqhiy hal.16]

Jadi bila bagian anggota tubuh terkena benda najis, maka cukup menghilangkannya dengan air sebagai alat untuk bersuci, sehingga tanda-tanda najis yang meliputi warna, bau dan rasanya hilang. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

“Dan Allah turunkan air dari langit kepada kalian agar Dia mensucikan kalian dengannya dari najis dan agar menghilangkan was-was syaithan.” [Al-Anfal : 11]

 Dan yang dikatakan air di sini ialah air yang suci dari najis yakni tidak terdapat padanya warna, rasa atau bau najis [sebagaimana yang diriwayatkan Al-Imam Al-Baihaqi dalan "sunanul kubra" 1/260] serta dapat mensucikan. Al-’Allamah Shiddiq Hasan Khan rahimahullah menegaskan bahwa tidak ada perselisihan di antara Ulama bahwa air mutlak itu (air dalam keadaan aslinya) suci dan mensucikan. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Al-Qur’an, As-Sunnah serta ijma’ dan menurut hukum asal.” [Ar-Rawdhatun Nadiyah 1/53]

Adapun mencuci bejana yang dijilat anjing, maka ada cara pencucian yang khusus dan tidak sekedar membilasnya dengan air. Sebagaimana yang diterangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

“Sucinya bejana salah seorang dari kalian apabila anjing menjulurkan lidah di dalamnya dan menggerak-gerakannya, maka dicuci (bejana tersebut) sebanyak tujuh kali, dan diawali pencuciannya itu dengan debu.” [Hadits Shahih riwayat Muslim 279]

Namun bila anjing itu menjilat selain tempat air, maka tidak mengikuti cara pencucian yang khusus seperti di atas, akan tetapi mencucinya sama seperti mencuci benda najis yang lainnya sebagaimana yang telah kami jelaskan. [Lihat Al-Muhalla 1/120 masalah ke 127]

Hikmah Bersuci Dalam Islam

Kitab Fiqih Manhaji Madzhab Imam Syafi’I menerangkan adanya hikmah bersuci dalam islam.

Menunjukkan fitrah Islam sebagai agama yang suci. Kedua, Menjaga kehormatan dan kewibawaan seorang Islam. Karena manusia pada dasarnya condong pada sesuatu yang bersih, suka berkumpul dengan orang-orang yang bersih dan menjauhi sesuatu yang kotor. Maka perintah bersuci adalah jalan menuju kehormatan dan kewibawaan Islam itu sendiri. Lebih-lebih ketika bersinggungan dengan msyarakat lainnya.

Menjaga kesehatan. Karena penyakit itu datang disebabkan kuman-kuman serta bakteri-bakteri yang dibawa oleh kotoran, maka Islam menganjurkan umatnya untuk menjaga kebersihan agar terhindar dari penyakit. Seperti mebersihkan badan, mencuci muka, mencuci tangan, mencuci kaki, karena anggota yang disebutkan merupakan tempat dimana kotoran yang menbawa penyakit itu bersarang.

Mempermudah diri mendekati Ilahi. Allah Tuhan Yang Mahas Suci senang akan hal-hal yang suci. Karena itu keitka shalat untuk menghadapi-Nya haruslah dalam keadaan suci secara lahir maupun batin

Hikmah Dibalik Bersuci Menurut Medis

Menurut pandangan medis bersuci dalam islam sebagiamana berikut ini :

Secara medis menurut kedokteran sistem pencernaan dalam tubuh manusia sangat rumit,kompleks,dan mengagumkan . Makanan yang  masuk kedalam perut mengalami proses yang lama baru ahirnya keluar dalam bentuk kotoran yang menjijikan .Alat pencernaan manusia ibarat laboratorium kimia yang mempunyai kemampuan hebat.Ia memperoses setiap makanan yang masuk kedalam perut secra telaten dengan bantuan getah lambung dan zat asam. Zat asam yang dikeluarkan oleh kelenjar-kelenjar sudah memiliki ukuran yang pas .Jika volume zat asam yang dikeluarkan oleh kelenjar itu kurang sedikit dari ukurannya ,maka makanan itu tidak bisa hancur.demikian juga jika yang dikeluarkan terlalu banyak,maka kesehatan tubuh manusia akan terganggu .

Setelah tubuh menyerap unsur yang bermanfaat dari apa saja yang kita makan dan minum  ,maka ampasnya  didorong untuk dikeluarkan dalam bentuk air dan kotoran .Jika ini tidak dikeluarkan,akan membahayakan tubuh kita .Sebab air kencing dan kotoran tadi mengandung banya bakteri dan kuman.

Maha Suci Allah telah  merancang tubuh manusia dengan memiliki sistem pemberesihan kotoran dari dalam secara otomatis .Ini membuktikan kebersihan sudah merupakan fitrah manusia .yang patut kita jaga dan syukuri .

Di dalam air kencing dan kotoran terdapat bakteri dan cacing.oleh sebab itulah Islam mewajibkan istinja . Istinja dilakukan dengan membersihkan sisa air kencing dan kotoran(yang keluar dari anus ) yang masih  melekat setelah melakukan aktivitas buang air dengan menggunakan metode diatas tadi yaitu dengan menggunakan air atau batu .

Kondisi kemaluan dan anus yang lembab , sangat ideal bagi kuman untuk hidup dan berkembang biak.Denagan membersihkan kemaluan,seseorang akan terhindar dari radang saluran kencing dan berbagai macam penyakit kulit yang disebabkan menumpuknya mikroba dan kuman .

Ajaran Nabi kita Muhammd Sollallohu alahi wasallam  yang patut dikagumi  adalah seorang Muslim dilarang untuk beristinja dengna tangan kanan , harus dengan tangan kiri , sehingga tangan kanan yang bertugas untuk menyentuh makanan selalu dalam keadaan bersih . Sebab bila beristinja dengan tangan kiri dikawatirkan telur-telur cacing yang terdapat dalam feses masih melekat dalam lipatan kulit dan bawah kuku tangan kiri ,sekalipun telah dibasuh dengan air.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di TEORI DAKWAH dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s